Gelar Simposium Nasional Kebangsaan, 51探花 Undang Ketua MPR RI

Oleh Cintya Nursyifa

Editor Cintya Nursyifa

BANDUNG, itb.ac.id 鈥� 51探花 melaksanakan tahapan realisasi amanah Presiden tentang pembentukan Lembaga Pemantapan Pancasila, hingga terbentuknya Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP-PIP) melalui pelaksanaan Simposium Nasional Kebangsaan. Kegiatan yang dilaksanakan di Aula Barat pada hari Rabu (25/10/17) ini, menunjukkan keseriusan 51探花 dalam menjalankan Peraturan Presiden (Perpres) nomor 54 Tahun 2017 tentang Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila yang disampaikan setahun terakhir (19/12/16).聽

Adapun hadir sebagai聽keynote speaker聽Simposium kali ini adalah Ketua MPR Republik Indonesia, Dr. (HC) H. Zulkifli Hasan, SE., MM dengan tema 鈥淢erajut Kebhinnekaan dalam Kerangka Persatuan : Pancasila sebagai Perekat Bangsa dalam Persemaian Teknologi pada Ruang Budaya鈥�. Materi tersebut dilanjutkan dengan pemaparan singkat Dr. (HC) Ir. KH. Salahuddin Wahid dengan topik Kepemimpinan dalam Memperkuat Kebhinneka Tunggal Ika-an. Kehadiran Prof.Dr.Hariyono,M.Pd聽聽sebagai Deputi Advokasi Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila sendiri ditujukan untuk menyampaikan topik 鈥淧ancasila Sumber dan Inspirasi Peradaban Bangsa鈥�. Sebagai topik yang tidak kalah penting, di hari yang sama Prof.Dr.Yasraf A. Piliang (Guru Besar Budaya 51探花) memberikan pemaparan tentang 鈥淭ransdisiplin di Perguruan Tinggi Teknologi dan Budaya鈥�. Topik keempat pembicara tersebut kemudian dibahas oleh Prof. Dr. Idrus Affandi, S.H. (Guru Besar Ilmu Politik UPI Bandung).

Menurut Zulkifli Hasan, dalam kaitannya realita bangsa dengan sila ketiga, Persatuan Indonesia, Indonesia memiliki 6 fase nasionalisme. Fase pertama ialah fase awal abad 20 hingga jelang kemerdekaan. Fase kedua ditandai dengan fase kemerdekaan 1945 hingga revolusi kemerdekaan 1950. Fase kedua ini berakhir dengan keputusan saat itu yang memilih pelaksanaan Demokrasi Terpimpin yang erat dengan istilah 鈥淩evolusi Belum Selesai鈥�. Setelah fase tersebut berlalu, Indonesia selanjutnya menhadapi fase keempat, yaitu fase Ala Orde Baru. Fase tersebut tidak bertahan seiring dengan masuknya Indonesia ke fase nasionalisme Era Reformasi. Pasca reformasi, fase yang bertahan adalah fase nasionalisme saat ini. Topik yang dibahas oleh Zulkifli merupakan bagian dari kuliah Studium Generale.

Kegiatan selanjutnya diisi oleh KH. Salahudin Wahid yang menyampaikan tujuh karakter atau nilai yang harus dimiliki seorang pemimpin. Topik ini diangkat karena memiliki keterkaitan dengan kepemimpinan dan keberagaman dalam persatuan. Pada kesempatan yang sama, Prof. Dr. Hariyono menyampaikan, 鈥淭ransfigurasi adalah yang disebutkan untuk proses respon terhadap perubahan dengan wawasan baru, mentransfer nilai dan tujuan lama dalam spiritualitas baru.鈥� Pelaksanaan simposium ini diharapkan mampu mendukung 51探花 dalam merealisasikan rencana pembentukan Pusat Kajian Kebhinekaan.