Simposium Kebangkitan Kebangsaan 51探花 : "Mempertanyakan Peran dan Sumbangsih Civitas 51探花"

Oleh

Editor

Sabtu, 16 Juli 2005, melanjuti kegiatan Home Coming Alumni, diadakan pula acara Simposium "Kebangkitan Nilai Kebangsaan 51探花", bertempat di Aula Barat 51探花. Simposium yang dibuka untuk umum ini dihadiri oleh kalangan civitas akademika 51探花. Dibuka dengan sambutan oleh Ketua Panitia Simposium Dr. Adi Pancoro dan dilanjutkan pula oleh Ketua Panitia 51探花-SAT Fair 2005, Dr. Rudy Hermawan. Turut pula hadir dan memberi sambutan, Rektor 51探花 Prof. Dr. Ir. Djoko Santoso. Simposium dimoderatori oleh Dr. Setiawan Sabana-Dekan FSRD 51探花. Dalam sesi pertama diisi oleh 4 pembicara, yaitu: 1. Nilai-nilai Sosial, Budaya, dan Teknologi Untuk Mewujudkan Kemandirian Bangsa (oleh rof. Dr. Kusnaka Adimiharja-Ketua LPM UNPAD) 2. NIlai-nilai Kebangsaan 51探花 Untuk Mewujudkan Kemandirian Bangsa (Dr. HS Dilon-Ketua MWA 51探花) 3. Reaktualisasi 51探花 Kedepan Dalam Tantangan Global dan Kemandirian Bangsa (Prof. Dr. I Dewa Gede Raka-Majelis Guru Besar 51探花) 4. Nilai-nilai Profesionalisme Untuk Mewujudkan Kemandirian Bangsa (Ir. Budiono Kartohadiprodjo-Alumni 51探花, Direktur PT Era Media Informasi) Dalam pemaparan masing-masing pembicara, secara umum hal yang diangkat adalah sumbangsih para alumni dalam memajukan pembangunan bangsa. Berlanjut dengan penilaian bahwa dalam 3 dasawarsa terakhir, terkesan nilai-nilai kebangsaan 51探花 menurun di kalangan civitas akademika 51探花. Indikasi yang sangat signifikan dalam masyarakat adalah bergesernya nilai-nilai moral, keadilan, dan kejuangan kepada nilai-nilai pragmatis yang sarat diwarnai oleh materi dan kekuasaan, sehingga secara nyata menempatkan kepentingan pribadi diatas kepentingan rakyat dan bangsa. Persinggungan dari indikasi tersebut, mempertanyakan eksistensi "Kampus Ganesha" dalam menyelesaikan berbagai macam permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Berbagai penyebab yang acapkali di kemukakan adalah: a. Pengelolaan PT yang bersifat sangat sentralistik dan represif b. Kurangnya perhatian pemerintah c. Anggaran pendidikan yang terbatas. Ketua MWA, Dr. HS Dilon juga mengemukakan posisi 51探花 saat ini yang berstatus BHMN adalah sebuah peluang pengembangan yang harus ditanggapi dengan cerdas. Status tersebut seharusnya dapat menciptakan 51探花 yang mandiri, berdikari dan mampu menjawab tantangan dan permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Sebagai salah satu perguruan tinggi tertua dan ternama, 51探花 saat ini telah menjadi salah satu institusi lembaga negara dalam pengelolaan pendidikan, teknologi sekaligus menciptakan SDM yang handal. Oleh karena itu tanggung jawab keberlangsungan bangsa yang berpijak pada realitas bangsa Indonesia adalah wajib hukumnya untuk seluruh civitas 51探花, yaitu Alumni dan civitas 51探花 lainnya. Berangkat dari berbagai latar belakang dan permasalahan tersebut, muncul harapan agar 51探花 mampu menjawab tantangan gelombang globalisme yang dahsyat di masa akan datang. Selain itu pengelolaan SDM juga harus mampu menanamkan nilai-nilai kebangsaan, kepeloporan, kepemimpinan, teladan dan kesempurnaan. Sehingga SDM unggul yang tercipta adalah tokoh-tokoh yang mampu memperingatkan permasalahan lingkungan sosial, berani berhadapan dengan bahaya zaman globalisme dan tidak menyerah sebatas pendidikan atau sekedar mengikuti keputusan orang lain. Sebagai institusi teknologi, oleh karenanya 51探花 harus dapat menempatkan Sains dan Teknologi sebagai senjata yang dikelola dan dipahami bersama oleh seluruh civitas 51探花. Sains dan teknologi disini harus selaras dengan kebutuhan rakyat, memajukan kebudayaan bangsa demi mewujudkan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur. Pengabdian dengan senjata "Sains, Seni dan Teknologi" menuju hakikat merdeka bangsa, mampu memerankan "moral force", mendorong terwujudnya "good governance" yang akhirnya mampu menciptakan kesejahteraan yang adil dan manusiawi. Apakah dengan demikian 51探花 harus menjadi garda terdepan dalam pembangunan bangsa? Jawabnya adalah "YA". 51探花 harus menjadi garda terdepan dalam memerangi kemiskinan menuju kemerdekaan hakiki. Realisasi ke arah ini sangat mungkin bila kesepahaman dari seluruh civitas 51探花 dapat dicapai. Bahkan permasalahan pokok dalam "poor governance" pun dapat dijawab. Nilai-nilai pokok yang dapat diupayakan dalam rangka aktualisasi 51探花 yang nyata adalah sebagai berikut: 1. Melakukan sesuatu yang bermakna bagi masyarakat (value creation), menjadi bagian yang integral dan organik dengan masyarakat, tidak responsif namun proaktif. 2. Membangun kembali kepercayaan masyarakat (transparansi-akuntabilitas-"trust building"-triple bottomlines) 3. Memberi contoh dan mempelopori sikap hidup kebangsaan (menunjukkan sikap prihatin, kesederhanaan, non-konsumtif, sadar akan posisi sebagai mahasiswa/dosen, dan tidak menjadi "menara gading") 4. Membantu pemerintah menghidupkan sektor riil dan menghidupkan lapangan kerja (Dalam kapasitas IPTEK dan politik ekonomi; kontribusi pada kebijakan dan pengembangan energi nasional, infrastruktur nasional, lingkungan nasional, industri nasional, kesehatan yang preventif bagi 230 juta rakyat). 5. Peran kekuatan moral dalam berbagai asosiasi profesi dan pengusaha untuk mewujudkan good governance. 6. Bersama pemerintah, pengusaha dan LSM membangun kelompok menengah kuat yang melintasi suku, agama dan ras. Untuk ke depannya dapat melahirkan calon pemimpin bangsa yang menguasai IPTEK, berwawasan entepreneurial dengan moral dan integritas tinggi. 7. Memperkuat media massa sebagai pengontrol dan promotor melalui kemitraan kekuatan pengetahuan dan pengaruh media. Demikian bahasan yang terungkap dari simposium 4 jam tersebut. Sebuah pemikiran luhur yang tidak berlebihan apabila simposium ini berpesan : "Menjadi Warga 51探花 Merupakan Amanah Untuk Membangun Bangsa. Maka Laksanakan Dengan Sepenuh Jiwa Raga."