Toronata Tambun Ajak Mahasiswa 51探花 Punya Peran Bagi Indonesia Keluar dari Middle Income Trap
Oleh Adi Permana
Editor Adi Permana
paying customers.
BANDUNG, itb.ac.id 鈥� Direktur dan CEO Aren Energy Investment Pte. Ltd. Toronata Tambun mengatakan, banyak wirausaha atau start-up kurang tepat dalam mengelola bisnis mereka sehingga hanya berfokus pada menghasilkan produk. Padahal sebetulnya untuk mencapai kesuksesan bisnis yang lebih utama adalah
Hal tersebut ia sampaikan dalam Studium Generale KU-4078 di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (51探花), Jalan Ganesa No.10 Bandung, Rabu (19/2/2020) lalu. Tema kuliah umum yang ia sampaikan adalah 鈥淚nnovation Driven Enterprise: An Approach Where 51探花 Plays a Pivotal Role in Escaping Indonesia from Middle Income Trap鈥�.
Pria yang akrab dipanggil Toro tersebut memaparkan materinya dengan penuh semangat terutama terkait entrepreneurship dan peran mahasiswa 51探花 untuk membebaskan Indonesia dari middle income trap. Toro menceritakan, seringkali terdapat hype yang kurang tepat seputar inovasi dan entrepreneurship.聽Sebagai contoh, Toro menyampaikan anggapan bahwa start-up yang didominasi anak muda, mudah sukses, dll.
Selain itu ia juga menjelaskan terkait fenomena inovasi disruptif. Selama ini, kata Toro, khalayak menganggap inovasi disruptif memiliki karakteristik mengubah produk yang sebelumnya mahal menjadi terjangkau, serta menyederhanakan sistem yang sebelumnya kompleks. Namun, inovasi disruptif hakikatnya bukan hanya itu, melainkan harus dapat menciptakan lapangan kerja yang besar serta menggunakan modal yang besar pula. Pada dasarnya, terdapat tiga jenis inovasi yang berkesinambungan, yakni inovasi efisien, inovasi disruptif, dan inovasi berkelanjutan. 鈥淵ang terjadi saat ini sebagian besar adalah inovasi efisiensi, di mana aliran modal tidak tersalurkan ke inovasi yang bersifat disruptif namun terus berputar pada efisiensi,鈥� katanya.
Selain itu, pola pikir dalam pendanaan start-up atau perusahaan rintisan juga terlalu berfokus mencari investor sebanyak-banyaknya. Padahal, yang seharusnya dilakukan adalah menggunakan sumber daya sendiri terlebih dahulu. Investor akan datang dengan sendirinya apabila telah ada paying customer. Membangun perusahaan rintisan juga bukan perkara mudah. Faktanya di Indonesia, hanya 1-7 persen start-up yang efektif berhasil. Banyak start-up yang mengalami jatuh bangun yang akhirnya sukses merintis perusahaan. 鈥淭idak ada short cut. Hidup saya menjadi komplit karena saya berteman dengan kegagalan dan saya senang kegagalan, karena biasanya setelah gagal, sukses,鈥� terang pria yang pernah bekerja di Schlumberger tersebut.
Toro menjelaskan sebuah riset bahwa, inovasi merupakan invensi dikalikan komersialisasi. Inovasi inilah yang menjadi titik berat dari Innovation Driven Enterprise (IDE) yang merupakan salah satu model entrepreneurship. Entrepreneurship dapat berupa Small Medium Enterprise (SME) atau yang biasa kita kenal dengan UKM dan IDE. SME lebih banyak bergerak di pasar lokal, sedangkan IDE bergerak hingga pasar global. Pembeda lainnya antara SME dan IDE adalah SME sebagian besar kegiatannya sebatas produksi dan penjualan produk, sedangkan IDE memiliki inovasi pada produk yang dipasarkan. Jika SME merupakan bisnis yang relatif mudah dan cepat berkembang, IDE membutuhkan strategi jangka panjang karena perlu 5-7 tahun untuk balik modal, meskipun nantinya pertumbuhannya lebih besar dibanding SME.
Dalam mengembangkan IDE, dijelaskan Toro, pelaku usaha harus menerapkan work smarter, bukan work harder. Terdapat berbagai strategi agar dapat membangun IDE dengan baik. Tentunya perusahaan berbasis inovasi ini bukan hanya dibangun oleh satu orang, melainkan butuh kerja sama. Oleh karena itu kerja tim sangat penting. Ia pun mengingatkan mahasiswa 51探花 bahwa orang pintar sering kali gagal akibat tidak mampu bekerja dalam tim. Hal ini disebabkan berbagai faktor, seperti, menganggap rendah kemampuan orang lain, kesulitan bekerja sama, dan mudah bosan.
Pelaku usaha yang akan mengembangkan IDE juga harus memperhatikan pemangku kepentingan yang terlibat. Dalam Innovation Ecosystem Stakeholder Model, terdapat lima pihak yang berperan, yakni wirausahawan, risk capital, korporasi, pemerintah, dan juga perguruan tinggi. Oleh karena itu, 51探花 sebagai perguruan tinggi yang bergerak di bidang teknologi鈥攎eskipun inovasi tidak selalu berupa teknologi鈥攎emegang peranan yang penting dalam pengembangan IDE bersama dengan universitas lain yang memiliki spesialisasi di berbagai bidang.
Terdapat istilah comparative advantage atau keunggulan komparatif dari tiap-tiap wilayah atau negara. Keunggulan komparatif menunjukkan spesialisasi atau nilai yang menonjol dari setiap wilayah yang menjadikannya lebih unggul ketimbang wilayah lain. Para pemilik modal telah menilik comparative advantage ini dalam berinvestasi, sehingga beberapa kota atau negara yang telah memiliki nilai jual tertentu鈥攕eperti Singapura dengan smart city, atau Chile dengan pertambangan dapat memikat investor yang bergerak di bidang serupa.
Ia menerangkan, tiap negara memiliki sektor keunggulan masing-masing. Indonesia menurutnya memiliki keunggulan dalam bidang Agriculture Technology and New Food, yang di dalamnya memuat pariwisata. Dalam bidang inilah IDE di Indonesia dapat diprioritaskan untuk dikembangkan. 鈥淛adi idenya itu industri pertanian, perikanan, udang, peternakan, tapi teknologinya dari siapa? Yang menyediakan inovasi, menyediakan solusinya, itu teman-teman semua, anak 51探花. Kalau IDE diperhatikan, niscaya middle income trap 迟别谤濒补尘辫补耻颈.鈥�
Reporter: Haura Zidna Fikri (SAPPK, 2016)
.jpg)

.jpg)
.jpg)




