Peringatan 100 Tahun Jurusan Teknik Sipil, 51探花 Selenggarakan Seminar Nasional Penguatan Infrastruktur di Indonesia

Oleh Adi Permana

Editor Adi Permana

(quick wins)

BANDUNG, itb.ac.id 鈥� Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (51探花) menyelenggarakan 51探花 Civil Engineering Expo (ICEE) 2020 di Aula Barat 51探花, Minggu (2/2/2020). Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati 100 tahun jurusan Teknik Sipil di 51探花. ICEE 2020 kali ini mengusung tema besar 鈥淥ptimasi Sistem Transportasi Indonesia 2020: 100 Tahun Teknik Sipil Indonesia鈥�. Acara tersebut terdiri dari Konferensi Mahasiswa serta Expo yang diselenggarakan pada tanggal 1 Februari 2020 dan seminar nasional yang diselenggarakan pada 2 Februari 2020. Selain itu, terdapat pula kompetisi untuk mahasiswa yaitu Tender and Paper Competition.

Seminar nasional merupakan salah satu mata acara pada ICEE 2020 yang mengundang Imam Haryono, Ph.D., sebagai pembicara. Imam adalah Staf Ahli Menteri Bidang Iklim Usaha dan Investasi, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Republik Indonesia. Sesuai dengan tema seminar yaitu 鈥淯saha Perkuatan Jaringan Logistik Indonesia Melalui Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur Menuju Lima Besar Ekonomi Dunia 2045鈥�, Imam memaparkan beberapa fakta dan strategi pemerintah, khususnya di bidang perindustrian untuk menunjang kemajuan ekonomi Indonesia mencapai lima besar dunia.

Dipaparkan Imam, saat ini pertumbuhan perekonomian Indonesia stagnan pada kisaran 5 persen. Terdapat lima industri dengan nilai pertumbuhan terbesar pada triwulan ke-3 tahun 2019 yaitu industri tekstil, industri makanan minuman, furnitur, kertas, serta industri pengolahan lainnya (jasa reparasi dan pemasangan mesin). 鈥淪aat ini nilai investasi pada industri sejak 2015 hingga 2019 terus meningkat. Investasi terbesar pada industri makanan dan industri logam dan barang logam,鈥� ungkap Imam.

Untuk meningkatkan daya saing, Imam menyatakan bahwa Kementerian Perindustrian menggagas Making Indonesia 4.0 dengan tujuan untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing Indonesia di era Revolusi Industri 4.0. Melalui upaya tersebut, target yang ingin dicapai yaitu mengembalikan 10 persen kontribusi ekspor neto pada PDB (Produk Domestik Bruto), meningkatkan produktivitas sebesar 2 kali, serta meningkatkan anggaran penelitian dan pengembangan sebesar 2 persen dari PDB. 鈥淪emua itu bertujuan untuk Indonesia masuk 10 besar ekonomi terbesar dunia pada 2030,鈥� tuturnya.

Imam mengatakan, terdapat sedikitnya lima sektor industri utama pada Making Indonesia 4.0. Industri tersebut diantaranya makanan minuman, tekstil, otomotif, kimia, dan elektronik. 鈥淯ntuk berfokus pada industri-industri terkait, maka kami mengeluarkan langkah aksi segera yaitu intensif pada bagian penelitian dan pengembangan, investor roadshow, peningkatan pendidikan vokasi, dan dukungan pemerintah ke UMKM,鈥� ujar Imam.

Imam menuturkan bahwa infrastuktur menjadi salah satu tolok ukur daya saing Indonesia serta penggerak perekonomian negara. Salah satu yang harus dibenahi adalah masalah konektivitas jalan di Indonesia karena infrastuktur sangat menunjang kegiatan logistik. Saat ini, dijelaskannya, 90 persen moda transportasi logistik dilakukan melalui jalur darat. Pemerintah sedang mengembangkan laut sebagai moda transportasi logistik dengan pembangunan port atau tol laut.

*Pembukaan ICEE 2020 oleh Wakil Rektor Bidang Keuangan, Perencanaan, dan Pengembangan 51探花, Ir. Muhamad Abduh, M.T., Ph.D.

Dengan diperingatinya 100 tahun pendidikan Teknik Sipil di Indonesia, Imam berharap ke depannya muncul insinyur sipil yang turut serta membangun infrastruktur di Indonesia terutama dalam menjawab masalah logistik nasional. Selain itu diperlukan kemampuan untuk pengelolaan infrastruktur logistik dengan menggunakan teknologi mutakhir yang terintegrasi, efektif, dan efisien. 鈥淟embaga dan kementerian terkait juga harus mendorong di sektor ini terutama penyediaan SDM yang mumpuni serta regulasi yang berguna untuk membangun ekosistem industri. Semua ini untuk upaya kita sebagai lima besar ekonomi pada 2045,鈥� jelasnya.

Reporter: Billy Akbar Prabowo (Teknik Metalurgi, 2016)