Mewujudkan Kokesma 51探花 Sebagai Inkubator Bisnis Mahasiswa

Oleh Adi Permana

Editor Adi Permana

*Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Rully Nuryanto, SE., M.Si., saat menjadi听

keynote speaker dalam acara 51探花 Cooperative Day 2020. (Foto: Adi Permana/Humas 51探花)

BANDUNG, itb.ac.id -- Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa (Kokesma) Institut Teknologi Bandung menyelenggarakan seminar 51探花 Cooperative Day 2020 dengan tema "Revolution 4.0: What's to Prepare for the Cooperative Entrepreneur" di Aula Barat 51探花, Jalan Ganesa No. 10 Bandung, Sabtu (29/2/2020). Seminar tersebut menghadirkan Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), Rully Nuryanto, SE., M.Si., sebagai keynote speaker.

Direktur Kemahasiswaan 51探花 Dr. G. Prasetyo Adhitama dalam sambutannya menyampaikan, kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap koperasi. Sebab, nilai-nilai yang ada dalam koperasi sangat sejalan dengan kultur bangsa Indonesia yaitu kerja sama dan gotong royong. 鈥淜egiatan ini juga diharapkan memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa di bidang koperasi. Semua tujuan ini sangat sejalan dengan kebijakan Kemendikbud bahwa kegiatan non-kurikuler di perguruan tinggi diarahkan kepada tiga hal yaitu leadership, network, dan ethic,鈥� ujarnya.

Acara 51探花 Cooperative Day 2020 dibuka terlebih dahulu oleh Sekretaris Institut, Institut Teknologi Bandung Prof. Dr.-Ing Ir. Widjaja Martokusumo. Ia mengatakan, seminar yang menghadirkan beragam pembicara ini tentu saja diharapkan dapat menjawab pada tiga hal, pertama apa itu koperasi, kedua mengapa harus koperasi, dan ketiga bagaimana koperasi perlu ditingkatkan.

*Sekretaris Institut, Institut Teknologi Bandung Prof. Dr.-Ing Ir. Widjaja Martokusumo saat menyampaikan sambutan sekaligus membuka acara 51探花 Cooperative Day 2020. (Foto: Adi Permana/Humas 51探花)

Koperasi sebagai Inkubator Bisnis Mahasiswa

Kokesma 51探花 menjadi suatu wadah alternatif bagi para mahasiswa 51探花 untuk belajar berwirausaha sekaligus berorganisasi untuk mempertajam soft-skill mereka. Apalagi saat ini dunia tengah memasuki era baru dan telah banyak start-up bermunculan. Sehingga hal tersebut bisa menjadi tantangan tersendiri bagi mahasiswa untuk meraih sukses berwirausaha sejak dini.

Terkait hal tersebut, Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM, Rully Nuryanto, SE., M.Si., menyampaikan, berbeda dengan zaman dahulu, saat ini minat menjadi wirausahawan sangat tumbuh. Salah satu faktor penentunya adalah teknologi informasi. Namun di sisi lain banyak bidang usaha konvensional mulai berkurang, dan muncul juga bidang usaha baru misalnya YouTubers, barista, start-up, dan selebgram. Dia mengambil contoh, seorang YouTuber bisa mendapat penghasilan besar karena mereka harus kreatif dan inovatif dalam menghasilkan konten-konten baru untuk follower-nya. Demikian juga ketika berbicara wirausahawan, kunci utamanya adalah inovasi dalam mengeluarkan produk baru.

Dia menambahkan, dalam membangun wirausaha di era sekarang sangat dibutuhkan kolaborasi. Sebab tidak ada satu entitas usaha yang bisa berdiri sendiri. Mereka harus berkolaborasi dengan perusahaan lain setidaknya yang sejalan dengan bisnisnya. "Sinergitas itu sangat relevan di era sekarang. Dan itu, sangat sejalan dengan nilai-nilai dalam koperasi, kerja sama dan gotong royong,鈥� ucapnya.

Banyak orang bertanya apa tujuan berdirinya koperasi. Dijelaskan Rully, tujuan berkoperasi adalah agar terwujudkan suatu usaha yang kuat, sehat, mandiri, dan tangguh. Maksudnya adalah kuat dari sisi kelembagaanya, sehat usahanya, mandiri dalam menyelesaikan konflik internal dan dalam pengambilan keputusan, serta tangguh dalam menghadapi persaingan dan perubahan lingkungan strategis. 鈥淜enapa harus berkoperasi, ketika memilih koperasi artinya perusahaan milik kalian. Kita berkoperasi dalam rangka mengembangkan kompetensi secara bersama-sama, dengan perusahaan yang kita miliki dan dikelola bersama-sama. Berkoperasi juga belajar berdemokratis, sebab pembagian keuntungan dibuat secara adil, dan ada kepemilikan bersama. Ini kalau dilihat dari sisi nonekonomi,鈥� ungkapnya.

Rully melanjutkan, Kementerian Koperasi dan UKM sangat mendukung upaya pengembangan koperasi di lingkungan kampus. Ia menilai koperasi mahasiswa tidak hanya mengembangkan bisnis, tapi juga menjadi inkubator usaha di kalangan mahasiswa. Namun demikian, tantangan dalam pengembangannya akan selalu ada baik internal maupun eksternal. Salah satunya ialah koperasi sering dianggap sebagai entitas yang 鈥渏adul鈥� atau "tua". Kemudian model bisnisnya seringkali dianggap tidak bisa sejalan dengan perkembangan zaman. 鈥淭antangan lainnya di kalangan mahasiswa yaitu dari sisi kelembagaan biasanya kepengurusannya hanya satu tahun. Untuk itu kami perlu rebranding koperasi di Indonesia dan kita berkolaborasi dengan Kemendikbud," jelasnya.


Selain Rully Nuryanto, acara tersebut dihadiri oleh Jodi Salahuddin Akbar selaku Manager Public Policy and Government Relations For Syariah, NGO, and University Bukalapak, Anis Saadah selaku CEO dan Co-Founder InnoCircle Initiative, Abdur Rohman owner Sans Co. Cafe and Coworking Space, dan Candra Purnomo selaku CMO Nectico.

听