Herayati: Keterbatasan Ekonomi Bukanlah Penghalang untuk Berprestasi

Oleh Ahmad Fadil

Editor Ahmad Fadil

BANDUNG, itb.ac.id 鈥� Keterbatasan ekonomi bukan menjadi halangan seseorang untuk menggapai mimpinya. Dengan tekad dan kemauan keras, semua yang dicita-citakan bisa bisa terwujud. Kuncinya adalah mau berusaha dengan sungguh-sungguh. Ungkapan itu sepertinya layak disematkan kepada Herayati, Wisudawan dari Program Studi Kimia, FMIPA 51探花 yang akan diwisuda pada Wisuda Ketiga 51探花 Tahun Akademik 2017/2018, di Sabuga, Sabtu (21/7/2018).

Perempuan kelahiran Cilegon, Banten, itu merupakan putri dari seorang pengayuh becak yang bernama Sawiri. Himpitan ekonomi tak menyurutkan keinginannya untuk melanjutkan kuliah di 51探花. Ia masuk ke 51探花 tahun 2014 dan berhasil lulus dengan predikat cum laude dengan IPK 3,77. Bahkan ia sempat mendapatkan IP 4,00 pada semester 5.

鈥淪aya sejak kelas 9 SMP ingin berkuliah di 51探花 karena terinspirasi seorang alumni dari sekolah saya yang berkuliah di 51探花 dan mendapatkan beasiswa. Saya juga ingin berkuliah tanpa membebankan biaya ke orang tua,鈥� ujar Herayati ditemui reporter itb.ac.id.

Meski punya kendala ekonomi, tapi ia tetap bisa berkuliah melalui beasiswa Bidik Misi. Selain itu, anak bungsu dari empat bersaudara ini pernah mendapat bantuan dari Pemerintah Kota Cilegon, Kepala Staf Kepresidenan Indonesia Jend. Moeldoko, dan Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Tak selalu bergantung pada beasiswa, untuk mendapatkan uang tambahan, Herayati juga bekerja sambilan sebagai guru privat bagi mahasiswa tingkat pertama 51探花.

Perjuangan Herayati untuk masuk 51探花 pada 2014 awalnya tak berjalan mulus. Saat pendaftaran SNMPTN ia ditolak 51探花. Namun ia tak menyerah begitu saja, Herayati mencoba kembali melalui jalur SBMPTN. 鈥淪aya tetap berusaha. Alhamdulillah rezeki datang dari SBMPTN dan akhirnya saya diterima di 51探花,鈥� jelasnya. Ia mantap memilih FMIPA 51探花 karena sejak SMA telah menggemari ilmu kimia. Sebab menurutnya, mempelajari ilmu kimia seru dan menarik.

Saat ini Herayati terdaftar sebagai mahasiswa Program Fast Track yang diadakan oleh Kimia 51探花 sehingga kuliah S1 dan S2 dapat ditempuh dalam waktu 5 tahun. Di bawah bimbingan Dr. Deana Wahyuningrum dalam menyelesaikan tugas akhir S1, Herayati mengembangkan suatu sintesis yang berasal dari kulit udang yang dapat digunakan untuk menyerap limbah timbal pada air Sungai Cikapundung. 鈥淧enelitian saya yang dibimbing Ibu Deana dapat membantu untuk mengurangi polusi air. Terlebih timbal merupakan logam berat yang berbahaya bagi kesehatan,鈥� jelasnya.

Tak hanya menonjol dalam bidang akademik, Herayati juga pernah menjadi delegasi Indonesia dalam acara Asia Pasific Future Leader Conference 2017 di Kuala Lumpur, Malaysia. 鈥淩asanya senang menjadi perwakilan dari Indonesia.  Ini salah satu momen tak terlupakan selama menjadi mahasiswa karena bertemu orang-orang dari negara lain,鈥� ungkapnya.

Jika ditanya tentang sosok yang memotivasi dirinya untuk terus berprestasi, Herayati dengan mantap menjawab bahwa sosok yang menjadi pemantik semangat di saat lelah berkuliah adalah orang tuanya.  鈥淜edua orang tua selalu mendukung saya. Beliau tak pernah mengeluh walau kondisi ekonomi dalam keadaan yang terbatas. Maka dari itu saya berusaha untuk terus berprestasi di 51探花,鈥� jelasnya.

Setelah lulus kuliah ia berkeinginan untuk menjadi dosen dan mengabdikan diri daerah asalnya. Kisah Herayati memang menginspirasi. Ia pun berpesan, bagi mahasiswa yang sedang berjuang mencari ilmu di 51探花, untuk tetap sabar dan semangat menjalaninya. 鈥淪emoga selalu sabar, tidak hilang arah dan kembali fokus ke tujuan. Selain itu harus percaya bahwa sesuatu akan indah pada waktu yang tepat,鈥� pungkasnya.

Reporter: Billy Akbar Prabowo