Dekan SBM 51探花 Jadi Narasumber QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026, Bahas Masa Depan Pendidikan Bisnis di Asia
Oleh NNA -
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BALI, itb.ac.id 鈥� Dekan Sekolah Bisnis dan Manajemen Institut Teknologi Bandung (SBM 51探花), Prof. Dr. Aurik Gustomo, S.T., M.T., menjadi salah seorang narasumber QS Higher Ed Summit: Asia Pacific 2026 di Bali International Convention Centre, Bali, Selasa (3/11/2026). Dalam forum tersebut, Prof. Aurik membagikan pandangannya mengenai peran sekolah bisnis di Asia dalam menghadapi perkembangan teknologi, kewirausahaan, keberlanjutan, dan perubahan geopolitik globa
Forum yang berlangsung pada 3鈥�5 November 2026 ini mengusung tema 鈥淎dvancing Education for Purpose and Impact鈥�. Dalam sesi 鈥淎sia's New Playbook for Business Education鈥�, Prof. Aurik berdiskusi bersama Prof. Jun Yang (Dean of Nanyang Business School, NTU Singapore) dan Prof. Reetika Gupta (Deputy Dean, ESSEC Business School, India) mengenai masa depan pendidikan manajemen di Asia dan kontribusinya terhadap dunia. Sesi ini dimoderatori Dr. Roberto Martin N. Galang (Dean of John Gokongwei School of Management, Ateneo de Manila University).
Asia sebagai Laboratorium Pendidikan Manajemen
Prof. Aurik menilai Asia memiliki posisi strategis dalam membentuk masa depan pendidikan manajemen global. Keberagaman ekonomi, mulai dari negara dengan ekosistem digital maju hingga pasar berkembang, menjadikan Asia sebagai laboratorium nyata untuk mengembangkan pendekatan manajemen yang inovatif dan adaptif.
Transformasi ekonomi dan teknologi menuntut sekolah bisnis membekali mahasiswa dengan kemampuan menyelesaikan persoalan nyata, termasuk dalam bidang kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI), kewirausahaan, dan keberlanjutan.
Menurutnya, 51探花 memiliki peluang mengintegrasikan keunggulan teknologi dan kompetensi bisnis untuk menghasilkan inovasi yang berdampak bagi masyarakat. Kontribusi Asia pun bukan untuk menggantikan pendekatan Barat, melainkan melengkapi pemikiran manajemen global melalui pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Pendidikan Kewirausahaan Berorientasi Dampak
.jpeg)
Dalam bidang kewirausahaan, Prof. Aurik menekankan pentingnya perubahan pendekatan dari sekadar mengajarkan teori menjadi membangun kemampuan dan ekosistem kewirausahaan. Mahasiswa perlu memperoleh pengalaman mengembangkan bisnis, menguji gagasan di pasar, dan belajar dari kegagalan.
Pendidikan kewirausahaan juga harus mendorong transformasi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui digitalisasi, penerapan AI, serta inovasi model bisnis untuk meningkatkan produktivitas dan menciptakan lapangan kerja.
Kolaborasi antara mahasiswa, peneliti, industri, investor, dan pemerintah menjadi penting untuk mempercepat hilirisasi inovasi teknologi menjadi solusi bisnis.
"Keberhasilan pendidikan kewirausahaan tidak hanya diukur dari jumlah mahasiswa yang mengikuti mata kuliah, tetapi dari kemampuan mengubah pengetahuan menjadi inovasi, inovasi menjadi bisnis, dan bisnis menjadi dampak ekonomi serta sosial," ujarnya.
Keberlanjutan dalam Strategi Bisnis
Prof. Aurik menyampaikan bahwa keberlanjutan harus menjadi bagian dari pendidikan manajemen, mencakup strategi, keuangan, operasional, dan kepemimpinan, bukan sekadar aktivitas tanggung jawab sosial perusahaan.
Tantangan seperti transisi energi, ketahanan pangan, dan pengelolaan limbah perlu dilihat sebagai peluang pengembangan teknologi serta model bisnis berkelanjutan.
Sekolah bisnis juga perlu memperkuat kolaborasi dengan industri dan UMKM melalui penelitian serta proyek terapan. Di 51探花, sinergi bisnis, sains, dan teknologi dapat membantu menerjemahkan penelitian menjadi solusi praktis yang berdampak ekonomi, lingkungan, dan sosial.
Menyiapkan Pemimpin Menghadapi Dinamika Geopolitik
.jpeg)
Menghadapi perubahan geopolitik global, Prof. Aurik menyoroti pentingnya pemahaman hubungan internasional, kebijakan perdagangan, pembatasan teknologi, dan rantai pasok global dalam pendidikan bisnis.
Selain efisiensi, calon pemimpin perlu memiliki ketahanan, kelincahan strategis, kemampuan mengelola risiko, serta keterampilan berkolaborasi lintas negara.
Dari perspektif Indonesia, penguatan daya saing nasional harus berjalan seiring dengan keterbukaan terhadap kerja sama internasional.
"Sekolah bisnis tidak cukup hanya mempersiapkan pemimpin untuk menghadapi perubahan tatanan dunia, tetapi juga membekali mereka untuk ikut membentuknya secara bertanggung jawab melalui pemikiran strategis, ketahanan, dan kolaborasi internasional," katanya.
.jpg)

.jpg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpg)