Mahasiswa 51探花 Kembangkan Inovasi Pengolahan Limbah Sawit Jadi Bahan Baku Metanol, Raih Juara 1 Kompetisi Nasional
Oleh Rasya Ihza Ramadhan - Mahasiswa Teknik Fisika, 2023
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
Tim mahasiswa 51探花 meraih Juara 1 kategori Paper and Poster Competition dalam ajang POISE UGM 2026 di Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (24/10/2026). (Dok. Tim)
YOGYAKARTA, itb.ac.id 鈥� Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (51探花) mengembangkan CarbonBridge, konsep modifikasi proses produksi metanol yang memanfaatkan limbah cair industri kelapa sawit dan hidrogen hijau sebagai alternatif bahan baku fosil. Inovasi ini menawarkan solusi atas ketergantungan industri metanol terhadap gas alam sekaligus membuka peluang pemanfaatan limbah sawit menjadi produk bernilai ekonomi. Gagasan tersebut mengantarkan tim meraih Juara 1 kategori Paper and Poster Competition (PPC) dalam ajang POISE UGM 2026 di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Sabtu (24/10/2026).
Tim ini terdiri atas Nina Khoirunnisa Naila Wijaya, Nasywa Jilan Fashihah, dan Glenn Immanuel Aldevito Marpaung, mahasiswa Program Studi Teknik Kimia 51探花 angkatan 2023. Kompetisi yang diselenggarakan Keluarga Mahasiswa Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (KMTK UGM) tersebut mendorong peserta mengidentifikasi permasalahan industri dan menawarkan solusi inovatif berbasis analisis ilmiah. Selain meraih juara pertama, tim memperoleh penghargaan Best Presentation.
CarbonBridge: Mengintegrasikan Limbah Kelapa Sawit dengan Produksi Metanol
.jpg)
Ilustrasi potensi pemanfaatan limbah cair industri kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) sebagai sumber biometana untuk mendukung produksi metanol melalui inovasi CarbonBridge yang dikembangkan tim mahasiswa 51探花 dalam ajang POISE UGM 2026. (Dok. Tim)
CarbonBridge dirancang untuk memodifikasi (retrofit) fasilitas produksi metanol yang telah beroperasi dengan mengintegrasikan biometana dari limbah cair industri kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME) dan hidrogen hijau. Pendekatan ini memungkinkan pemanfaatan bahan baku alternatif tanpa harus membangun fasilitas produksi baru.
Gagasan tersebut dilatarbelakangi kebutuhan impor metanol Indonesia, tantangan ketersediaan pasokan gas alam, serta besarnya potensi limbah organik dari industri kelapa sawit yang belum dimanfaatkan secara optimal.
鈥淜ami memilih topik ini karena kami ingin mengembangkan inovasi yang relevan dengan kondisi industri di Indonesia. Sebagai salah satu produsen kelapa sawit terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi limbah organik yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi dan bahan baku alternatif,鈥� kata Nina.
Secara teknis, CarbonBridge menggunakan teknologi combined reforming untuk mengolah biometana dari POME bersama hidrogen hijau menjadi gas sintesis (syngas), yaitu bahan baku produksi metanol. Proses tersebut didukung teknologi Sorption-Enhanced Reforming (SER) dan Adaptive Sorption Combined Reforming (ASCR) yang dirancang untuk meningkatkan pemanfaatan bahan baku dan menghasilkan gas sintesis sesuai kebutuhan unit sintesis metanol.
Rancangan ini mempertimbangkan kesiapan infrastruktur eksisting, kebutuhan energi, kelayakan ekonomi, dan dampak lingkungan agar teknologi yang diusulkan memiliki peluang penerapan di industri.
Menguji Kelayakan Teknologi melalui Simulasi dan Analisis Lingkungan
Untuk menguji kelayakan konsep CarbonBridge, tim melakukan simulasi empat skenario proses menggunakan perangkat lunak Aspen Plus. Hasilnya digunakan untuk mengevaluasi aspek teknis, proyeksi rantai pasok, keekonomian, emisi gas rumah kaca melalui Life Cycle Assessment (LCA-GHG), serta menyusun peta jalan implementasi.
Salah satu tantangan utama dalam pengembangan inovasi ini adalah memastikan seluruh aspek rancangan saling terintegrasi. Perubahan konfigurasi proses dapat memengaruhi kebutuhan energi, biaya produksi, dan dampak lingkungan sehingga memerlukan evaluasi secara menyeluruh.
Dari analisis tersebut, tim menemukan bahwa penggunaan bahan baku terbarukan belum tentu menghasilkan emisi yang lebih rendah. Kebutuhan energi dan utilitas dalam proses produksi tetap berkontribusi terhadap emisi gas rumah kaca.
鈥淏erdasarkan hasil analisis, penggunaan bahan baku terbarukan ternyata tidak otomatis menghasilkan emisi yang lebih rendah karena masih terdapat kontribusi emisi dari kebutuhan energi dan utilitas proses,鈥� kata Glenn.
Temuan ini menjadi dasar penyempurnaan rancangan CarbonBridge. Tim menekankan pentingnya menilai keberlanjutan industri kimia berdasarkan keseluruhan proses produksi, bukan hanya jenis bahan baku yang digunakan.
Membuka Peluang Integrasi Industri Menuju Ekonomi Sirkular
Pengembangan CarbonBridge menunjukkan potensi kolaborasi antara industri kelapa sawit dan industri kimia dalam menciptakan nilai tambah dari limbah. Jika dikembangkan lebih lanjut, konsep ini berpeluang mendukung diversifikasi bahan baku metanol, pemanfaatan sumber daya lokal, serta pengembangan proses industri yang lebih berkelanjutan.
Saat ini, CarbonBridge masih berada pada tahap konseptual dan simulasi sehingga manfaat teknis, ekonomi, dan lingkungannya masih memerlukan pengujian lebih lanjut sebelum dapat diterapkan pada skala industri.
鈥淜ami berharap CarbonBridge dapat menjadi salah satu referensi pengembangan teknologi produksi metanol yang lebih berkelanjutan, khususnya melalui pemanfaatan limbah industri kelapa sawit,鈥� ujar Nasywa.
.jpg)

.jpeg)
.jpeg)


