Kuliah Umum Dr. Park Jin di 51探花 Soroti Peluang Kolaborasi Indonesia-Korea Selatan di Bidang AI, Energi, dan Teknologi Maritim

Oleh Anggun Nindita

Editor Anggun Nindita


BANDUNG, itb.ac.id 鈥� Institut Teknologi Bandung (51探花) menyelenggarakan kuliah umum bertajuk 鈥淓nhancing Science Diplomacy between Korea and Indonesia: Opportunities and Challenges鈥� di Aula Timur, 51探花 Kampus Ganesha, Senin (2/11/2026). Kegiatan ini menghadirkan Dr. Park Jin, CBE, mantan Menteri Luar Negeri Korea Selatan sekaligus Chairman of the Advisory Board of the KAIST Center for Science Diplomacy, yang membahas peluang penguatan kerja sama Indonesia dan Korea Selatan melalui ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.

Dalam paparannya, Dr. Park Jin menekankan bahwa diplomasi sains memiliki peran yang semakin penting dalam hubungan internasional. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, kerja sama ilmiah tidak hanya berperan dalam menghasilkan pengetahuan baru, tetapi juga menjadi sarana untuk menjawab tantangan global, memperkuat daya saing, dan membangun hubungan antarnegara.

"Dunia kini memasuki era technopolitics, ketika kemajuan teknologi semakin berkaitan erat dengan kebijakan dan kepentingan strategis suatu negara. Dalam konteks tersebut, diplomasi sains menjadi salah satu pendekatan untuk membangun kerja sama internasional yang saling menguntungkan," katanya.

Ia menjelaskan bahwa diplomasi sains mencakup tiga dimensi utama, yakni pemanfaatan ilmu pengetahuan untuk mendukung kebijakan luar negeri, penggunaan hubungan diplomatik untuk memperluas kolaborasi penelitian, serta kerja sama ilmiah sebagai sarana membangun kepercayaan antarnegara.

Indonesia dan Korea Selatan Memiliki Potensi Kerja Sama yang Saling Melengkapi

Dr. Park Jin menyoroti perkembangan hubungan bilateral Indonesia dan Korea Selatan yang telah terjalin sejak 1973. Hubungan kedua negara terus berkembang melalui berbagai kemitraan strategis, termasuk peningkatan kerja sama pada April 2026.

Ia menilai Indonesia dan Korea Selatan memiliki kekuatan yang saling melengkapi untuk mengembangkan kolaborasi di bidang sains dan teknologi.

Korea Selatan memiliki keunggulan dalam industri manufaktur maju, semikonduktor, baterai, otomotif, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Sementara itu, Indonesia memiliki potensi besar melalui populasi muda, pertumbuhan ekonomi digital, ketersediaan mineral kritis seperti nikel, serta sumber daya energi terbarukan.

"Perpaduan potensi tersebut membuka peluang bagi kedua negara untuk memperkuat kerja sama yang tidak hanya berorientasi pada pengembangan teknologi, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan," ujarnya,

Lima Peluang Strategis Kolaborasi Sains dan Teknologi

Selain itu, beliau juga mengidentifikasi lima bidang utama yang berpotensi menjadi fokus kerja sama Indonesia dan Korea Selatan.

Bidang pertama adalah kecerdasan buatan dan transformasi digital. Kerja sama dapat diarahkan pada pengembangan infrastruktur teknologi, peningkatan kapasitas riset, serta pemanfaatan AI yang berpusat pada kebutuhan manusia.

Bidang kedua mencakup pengembangan mineral kritis dan industri baterai. Dengan kekayaan sumber daya nikel yang dimiliki Indonesia serta kemampuan teknologi Korea Selatan, kedua negara berpeluang memperkuat rantai nilai industri baterai yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

"Selanjutnya, kerja sama di bidang transisi energi dan teknologi iklim dinilai memiliki prospek besar, antara lain melalui pengembangan energi terbarukan, teknologi nuklir, serta teknologi penangkapan karbon untuk mendukung upaya pengurangan emisi," ungkapnya.

Bidang keempat adalah sains maritim dan ekonomi biru. Dalam hal ini, Dr. Park Jin menyinggung keberadaan pusat penelitian kerja sama teknologi kelautan Korea-Indonesia di 51探花 sebagai salah satu contoh kolaborasi yang dapat dikembangkan untuk mendukung pemantauan kondisi laut, pengelolaan sumber daya kelautan, dan mitigasi bencana.

Adapun bidang kelima adalah pengembangan sumber daya manusia dan penguatan jejaring perguruan tinggi. Ia menekankan pentingnya pertukaran mahasiswa dan peneliti, program beasiswa seperti Global Korea Scholarship (GKS), serta kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah.

Salah satu gagasan yang disampaikan adalah pembentukan jejaring diplomasi sains Indonesia-Korea Selatan yang melibatkan institusi pendidikan tinggi, termasuk 51探花 dan Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST). Jejaring tersebut diharapkan dapat memperluas kesempatan penelitian bersama, pertukaran pengetahuan, dan pengembangan inovasi.

"Melalui agenda ini, saya berharap menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai peran perguruan tinggi dalam memperkuat hubungan internasional berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi," paparnya.

Kegiatan ini sekaligus membuka perspektif mengenai pentingnya kolaborasi lintas negara untuk menjawab tantangan masa depan, serta memperluas peluang kontribusi akademisi dan peneliti dalam menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

#itb #kuliah umum #sdg 4 #quality education #sdg 7 #affordable and clean energy #sdg 9 #industry innovation and infrastructure #sdg 13 #climate action #sdg 14 #life below water #sdg 17 #partnerships for the goals