Direktorat Kemahsiswaan 51探花 Gelar Psychological First Aid (PFA) bagi Dosen

Oleh Anggun Nindita

Editor Anggun Nindita


JATINANGOR, itb.ac.id - Direktorat Kemahasiswaan (Ditmawa) 51探花 menggelar acara Psychological First Aid (PFA) bagi para dosen pada Rabu (09/08/23) di Ruang Seminar Gedung Utama Lt. 3, Kampus 51探花 Jatinangor. Acara ini merupakan hasil kolaborasi dengan UPT PSDM 51探花, Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat, Pendamping Sebaya 51探花, dan Tim Duta Ditmawa 51探花.

Direktur Kemahasiswaan 51探花, Dr. G. Prasetyo Adhitama S.Sn, M. Sn., membuka secara resmi acara ini. Dalam sambutannya, ia mengungkapkan bahwa acara PFA untuk dosen ini pertama kalinya diselenggarakan setelah sebelumnya hanya diperuntukkan bagi mahasiswa.

鈥淒alam kasus-kasus yang dihadapi di 51探花 terutama, tidak mungkin menyelesaikan persoalan atau mendeteksi persoalan itu dari awal hanya bersama mahasiswa. Tapi perlu melibatkan para dosen, terutama dosen wali, para kaprodi, dan orang tuanya,鈥� ujarnya.

Dalam acara ini, dihadirkan pula beberapa pembicara dari Rumah Sakit Jiwa Provinsi Jawa Barat dengan spesialisasinya masing-masing.

Materi pertama disampaikan oleh dr. Dini Indriany, Sp.KJ., Beliau menerangkan soal 鈥淧engenalan dan Deteksi Dini Gangguan Jiwa bagi Dosen鈥�. Menurutnya, masalah kesehatan jiwa pada mahasiswa biasa ditemukan dan dapat mempengaruhi nilai akademis. Namun, hal ini dapat diantisipasi sejak awal dengan mengetahui gejala-gejalanya.

鈥淒engan mengenal gejala gangguan jiwa, maka dapat meningkatkan pemahaman yang positif, mengurangi stigma, dan peran dari dosen dalam masalah kesehatan jiwa ini鈥�, ujarnya.

Selanjutnya, Dra. Lismainar, M.Pd., Psikolog, menguraikan langkah-langkah dalam identifikasi masalah kesehatan jiwa pada mahasiswa. Pertama, dimulai dari membangun kesadaran dengan mengenali diri sendiri serta karakterisktik perkembangan remaja, hingga pada penerimaan diri.

鈥淪etelahnya dosen perlu membangun empati dan tindakan, baik membantu secara langsung maupun memberikan jejaring dan rujukan,鈥� katanya.

Jika P3K mengurangi ketidaknyamanan tubuh akibat luka fisik, PFA diperlukan untuk mengurangi ketidaknyamanan akibat reaksi emosi dan pikiran setelah mengalami peristiwa stress tinggi (traumatis). Keluarga dan teman merupakan orang terdekat dalam penanganan psikologis ini. PFA dapat dilakukan di lingkungan terbuka, tidak perlu di klinik.

Terdapat 6 langkah dalam PFA, yakni melihat, mendengar, memberi rasa nyaman, menghubungkan, melindungi, dan memberi harapan. Poin penting dalam hal ini adalah adanya empati dan menghadirkan diri kemudian menerima dengan sepenuh hati apa yang orang lain keluhkan.

鈥淧FA sendiri bukanlah metode untuk mengobati, bukan pula konseling, termasuk memberikan label atau mendiagnosa. Akan tetapi, PFA memberikan dukungan saat seseorang mengalami krisis,鈥� ucapnya.

Lebih lanjut, Winda Ratna Wulan, S.Kep. Ners., M.Kep., Sp.Kep.J., menjabarkan berbagai metode intervensi PFA. Acara semakin menarik karena metode ini diperagakan secara langsung, yakni butterfly hug dan hipnotis 5 jari.

Para peserta pun tampak antusias dalam menyimak dan memperagakan kedua metode ini. Selain itu, terdapat pula metode thought stopping, forgiveness therapy, dan relaksasi otot progresif.

PFA sendiri merupakan salah satu kegiatan pada rangkaian Penerimaan Mahasiswa 51探花 (PMB) 2023. Nantinya, PFA juga akan dilaksanakan untuk orang tua dan mahasiswa pada 15 dan 16 Agustus 2023.

Reporter: Muh. Umar Thoriq (Teknik Pangan, 2019)