Ungguli Tim Australia dan Singapura, Mahasiswi 51探花 Juara 1 Kompetisi Bisnis Internasional lewat Strategi Pemasaran Produk Perawatan Pria

Oleh Jekky - Mahasiswa Teknik Pertambangan, 2023

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

Tim Cantix 51探花 usai meraih Juara 1 Market.inc International Applied Business Competition 2026, Bandung, Selasa (13/10/2026). (Dok. Tim Cantix)

BANDUNG, itb.ac.id 鈥� Tiga mahasiswi Institut Teknologi Bandung (51探花) yang tergabung dalam Tim Cantix meraih Juara 1 Market.inc International Applied Business Competition 2026 melalui rancangan strategi pemasaran GATSBY Wipes, produk tisu basah untuk perawatan pria. Mereka menawarkan solusi untuk meningkatkan minat konsumen terhadap produk yang belum menjadi bagian dari kebiasaan perawatan pria di Indonesia.

Strategi berbasis riset konsumen tersebut berpotensi membantu perusahaan memperluas pasar, meningkatkan penjualan, dan membangun kebiasaan baru dalam penggunaan produk perawatan diri yang praktis.

Dalam kompetisi tersebut, Tim Cantix mengungguli tim dari Australia yang menempati posisi kedua dan Singapura di posisi ketiga. Babak final diselenggarakan secara daring pada Selasa (6/10/2026).

Tim Cantix beranggotakan Sarah Eudora Simamora, Paramadina Kinarhasna Bulfiah (Kinar), dan Tazkia Zahra Aulia, mahasiswa Program Studi Manajemen angkatan 2024, Sekolah Bisnis dan Manajemen (SBM) 51探花. Ketiganya mengerjakan seluruh proses kompetisi secara mandiri.

Menjawab Tantangan Pemasaran Produk Perawatan Pria

Market.inc merupakan kompetisi yang digagas Markathing Indonesia, agensi komunikasi pemasaran butik, bersama Applied Syndicate Project (ASP), program capstone berbasis industri di University of Melbourne, dengan GATSBY sebagai mitra merek.

Kompetisi ini diikuti sekitar 250 pendaftar dari delapan negara. Sebanyak lima tim dari lima perguruan tinggi di Indonesia, Singapura, dan Australia berhasil melaju ke babak final.

Dalam kompetisi ini, peserta ditantang menyusun rencana pemasaran selama tiga tahun yang dapat meyakinkan manajemen perusahaan untuk berinvestasi dalam pengembangan kategori produk tersebut.

Bagi ketiganya, tantangan utama bukan sekadar memperkenalkan produk, melainkan membangun persepsi bahwa GATSBY Wipes memiliki manfaat yang sepadan dengan harganya. Untuk itu, mereka berupaya memahami kebutuhan konsumen serta faktor yang selama ini menghambat minat pembelian.

Riset Konsumen Melahirkan Kampanye GATSBY for What鈥檚 Next

Tim Cantix melakukan riset melalui studi literatur dan data sekunder, survei, wawancara, serta diskusi kelompok terarah (focus group discussion/FGD). Hasilnya menjadi dasar untuk menentukan segmentasi pasar dan merancang pendekatan pemasaran yang sesuai dengan karakteristik konsumen.

Segmen utama yang dipilih adalah Social Hustler, yaitu pria muda dengan mobilitas tinggi yang aktif berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya. Tim juga menyasar kelompok Commuter atau pengguna transportasi untuk aktivitas sehari-hari, serta Sports Enthusiast atau individu yang aktif berolahraga, dengan pendekatan pemasaran yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.

Melalui riset tersebut, Tim Cantix menemukan bahwa kebutuhan konsumen tidak hanya berkaitan dengan kebersihan wajah, tetapi juga kenyamanan dan kepercayaan diri ketika menjalani berbagai aktivitas.

鈥淢ereka ingin merasa segar dan percaya diri sebelum menjalani aktivitas berikutnya. Temuan ini kami kembangkan menjadi kampanye GATSBY for What鈥檚 Next, yang memosisikan GATSBY Wipes sebagai on-the-go grooming essential dan bukan sekadar tisu basah berharga premium,鈥� ungkap Kinar.

Pembuka presentasi tim yang berjudul 鈥�Building Everyday Grooming Habits Through Trial, Relevance, and Scalable Access鈥�, Selasa (6/10/2026). (Dok. Tim Cantix)

Merancang Strategi Pemasaran dari Pengenalan hingga Pembelian Ulang

Selain mengembangkan konsep kampanye, Tim Cantix menyusun strategi pemasaran yang mencakup seluruh perjalanan konsumen, mulai dari mengenal produk (awareness), mencoba (trial), melakukan pembelian, hingga melakukan pembelian ulang.

Sejumlah gagasan yang ditawarkan meliputi Digital Trial Pass untuk mendorong konsumen mencoba produk, penyediaan paket percobaan, pemanfaatan mesin penjual otomatis, serta kolaborasi dengan berbagai mitra untuk memperluas akses konsumen.

Setiap gagasan dirancang dengan mempertimbangkan kebutuhan pasar, kemudahan penerapan, dan potensi keberlanjutan bisnis. Dengan demikian, strategi yang diajukan tidak hanya berfokus pada daya tarik kampanye, tetapi juga kelayakan pelaksanaannya.

Dalam proses penyusunan strategi, ketiga anggota tim membagi tanggung jawab berdasarkan bidang analisis. Kinar berfokus pada analisis konsumen dan pasar, Tazkia menangani aspek komersial dan aktivasi pemasaran, sedangkan Sarah mengerjakan analisis kompetitor serta produk pengganti.

Seluruh anggota kemudian berkolaborasi dalam merumuskan solusi. Kinar dan Tazkia menyusun peta jalan implementasi, mitigasi risiko, dan indikator kinerja, sementara Sarah mengembangkan analisis keuangan untuk mendukung kelayakan strategi yang diajukan.

Proses tersebut tidak terlepas dari berbagai tantangan. Tim harus mengevaluasi sejumlah ide yang muncul agar tetap selaras dengan hasil riset dan kebutuhan konsumen. Di sisi lain, jadwal kompetisi yang padat kerap berbenturan dengan kegiatan akademik.

Meski sempat menghadapi tekanan dan kelelahan, ketiganya tetap berkomitmen menyelesaikan rancangan strategi yang telah mereka kembangkan.

Pemahaman Pasar Indonesia Jadi Keunggulan Tim Cantix

Berhadapan dengan peserta dari berbagai negara memberikan pengalaman tersendiri bagi Tim Cantix. Mereka memperoleh kesempatan untuk melihat beragam pendekatan dalam menyelesaikan persoalan bisnis yang sama.

Menurut Tazkia, salah satu keunggulan tim terletak pada pemahaman terhadap karakteristik dan perilaku konsumen Indonesia sebagai pasar utama dalam kasus kompetisi tersebut.

鈥淜ami mahasiswi Indonesia yang mengerjakan kasus untuk konsumen Indonesia, jadi lebih mudah membaca perilaku konsumen dan masalah yang benar-benar mereka alami,鈥� kata Tazkia.

Pada babak final, Tim Cantix mempresentasikan strategi yang telah disusun di hadapan dewan juri. Sesi tanya jawab dimanfaatkan untuk menjelaskan dasar riset, pertimbangan bisnis, serta alasan di balik setiap solusi yang mereka tawarkan.

Keberhasilan meraih posisi pertama menjadi pencapaian yang membanggakan bagi ketiganya, terlebih setelah bersaing dengan peserta dari berbagai universitas internasional.

鈥淒ari awal kami berharap bisa menang dan tetap optimistis, tetapi jujur tidak menyangka bisa sampai juara 1, apalagi melihat banyaknya peserta dari berbagai negara,鈥� ujar Sarah.

Saat pengumuman pemenang, ketiga anggota Tim Cantix berada di lokasi berbeda. Meski demikian, mereka sama-sama merasakan kebahagiaan dan kebanggaan karena kerja keras selama kompetisi membuahkan hasil.

Bagi Tim Cantix, pengalaman tersebut memperkuat pemahaman bahwa keberhasilan dalam menyelesaikan persoalan bisnis tidak cukup hanya mengandalkan ide kreatif. Solusi juga harus didasarkan pada pemahaman pasar, didukung analisis yang kuat, dan memungkinkan untuk diterapkan.

Berbagai pengetahuan yang diperoleh selama perkuliahan, terutama mengenai perilaku konsumen dan analisis pasar, menjadi bekal penting dalam kompetisi ini. Kinar dan Tazkia yang mengambil peminatan pemasaran (marketing) dapat menerapkan secara langsung konsep-konsep yang dipelajari di kelas.

Selain kemampuan akademik, kompetisi ini turut mengasah keterampilan berpikir kritis, memecahkan masalah, bekerja sama, dan berkomunikasi dalam lingkungan persaingan internasional.

Tim Cantix berharap pencapaian tersebut dapat memotivasi mahasiswa 51探花 lainnya untuk berani mengikuti kompetisi internasional, memanfaatkan kesempatan mengembangkan kemampuan, serta membawa gagasan dan inovasi yang mampu menjawab kebutuhan nyata masyarakat maupun industri.

#itb #sbm itb #sekolah bisnis dan manajemen #mahasiswa itb #prestasi mahasiswa #prestasi internasional #strategi pemasaran #inovasi bisnis #riset konsumen #manajemen bisnis #itb berdampak #sdg 4 #quality education #sdg 8 #decent work and economic growth #sdg 9 #industry innovation and infrastructure