Bawakan Strategi Pengurangan Emisi dan Pemanfaatan Limbah Industri Baja, Tiga Mahasiswa 51探花 Juara 1 Nasional ICEF 2026
Oleh Rasya Ihza Ramadhan - Mahasiswa Teknik Fisika, 2023
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
Tim KCIC dari 51探花 berfoto bersama di depan gedung Labtek III Matthias Aroef setelah ajang kompetisi selesai, Sabtu (17/10/2026). (Dok. Tim KCIC)
BOGOR, itb.ac.id 鈥� Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (51探花) yang tergabung dalam Tim KCIC meraih Juara 1 kategori Business Case Competition dalam ajang Indonesian Civil and Environmental Festival (ICEF) 2026. Mereka mengembangkan strategi "BPS 2.0: The Second Furnace" untuk membantu industri baja meningkatkan efisiensi energi, mengurangi emisi karbon, dan memanfaatkan hasil samping produksi menjadi sumber nilai ekonomi baru.
Strategi tersebut menjawab tantangan industri baja dalam menekan konsumsi energi dan dampak lingkungan tanpa mengabaikan kelayakan bisnis. Melalui pendekatan efisiensi produksi dan ekonomi sirkular, gagasan ini berpotensi membantu perusahaan menghemat sumber daya, mengurangi material terbuang, serta membuka peluang usaha dari hasil samping produksi. Manfaat tersebut menjadi relevan bagi upaya pengembangan industri yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Tim KCIC terdiri atas Annisa Sofianis, Keith Aurelio Saragih, dan Canggih Effendi dari Program Studi Teknik Industri 51探花 angkatan 2023. Ketiganya mengembangkan solusi berdasarkan studi kasus PT Baja Perkasa Sentosa (BPS Steel) dalam kompetisi yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Teknik Sipil dan Lingkungan (HIMATESIL) IPB University.
Kompetisi ini mempertemukan lima tim finalis yang ditantang merumuskan solusi bisnis dan lingkungan melalui analisis berbasis data. Babak final berlangsung pada 9 Oktober 2026 di Auditorium Abdul Moeis Nasoetion, IPB University, Bogor, sedangkan pengumuman pemenang dilaksanakan pada 10 Oktober 2026 di Gedung Graha Widya Wisuda.
Mengintegrasikan Efisiensi Energi dan Ekonomi Sirkular

Tim KCIC meraih Juara 1 kategori Business Case Competition dalam ajang Indonesian Civil and Environmental Festival (ICEF) 2026 di IPB University, Bogor, Sabtu (10/10/2026). (Dok. Tim KCIC)
Dalam merancang BPS 2.0, Tim KCIC membagi solusi ke dalam tiga fokus utama, yaitu Source of Energy and Resources (sumber energi dan sumber daya), Furnace Technology (teknologi tungku produksi), serta Waste Handling and Circularity (pengelolaan limbah dan ekonomi sirkular).
Pada aspek energi, tim mengusulkan optimalisasi penggunaan sumber energi, termasuk pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap. Sementara itu, pada aspek teknologi produksi, mereka berfokus pada peningkatan efisiensi tungku peleburan (Induction Furnace) dan tungku pemanasan ulang (Reheating Furnace) melalui optimalisasi proses peleburan, pengurangan kelembapan bahan baku, serta pemanfaatan panas buang.
Pada aspek ekonomi sirkular, tim mengidentifikasi peluang pemanfaatan terak baja (slag), kerak oksida (mill scale), debu hasil penyaringan (dedusting dust), dan sisa baja setengah jadi (billet). Material tersebut dapat dimanfaatkan kembali dalam proses produksi atau disalurkan ke industri lain sesuai karakteristik dan persyaratan yang berlaku.
鈥淒ari perspektif Teknik Industri, solusi yang baik bukan hanya solusi yang memungkinkan secara teknis, tetapi juga harus mempertimbangkan efisiensi biaya, kelayakan implementasi, alur proses, dan keberlanjutan bisnisnya,鈥� kata Canggih.
The Second Furnace: Mengubah Hasil Samping Produksi Menjadi Peluang Ekonomi

Pembuka presentasi tim berjudul 鈥淒ari Baja Bersih Menjadi Baja Terbukti dengan BUKTI House Initiatives鈥�, Sabtu (10/10/2026). (Dok. Tim KCIC)
Dalam analisisnya, Tim KCIC menemukan bahwa tantangan pemanfaatan hasil samping industri baja tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan teknologi pengolahan. Regulasi, kualitas material, dan kepastian akses pasar juga menjadi faktor yang menentukan apakah material sisa produksi dapat dimanfaatkan secara ekonomis.
鈥淢elalui analisis kami, kami justru menemukan bahwa salah satu hambatan penting terletak pada regulasi, khususnya ketidaksesuaian cakupan aturan untuk beberapa aliran hasil samping dari Induction Furnace,鈥� kata Keith.
Temuan tersebut menjadi dasar pengembangan kerangka strategi T.U.N.G.K.U. yang terdiri atas enam pilar, yaitu Tetapkan Statusnya, Ukur dan Lacak, Naikkan Mutunya, Genggam di Dalam, Kanalkan ke Pasar, dan Umumkan dengan Bukti.
Melalui kerangka ini, tim mengusulkan penyelesaian status hukum hasil samping produksi, pengujian karakteristik dan peningkatan kualitas material, serta pengembangan jalur pemanfaatan yang memenuhi persyaratan industri.
Salah satu contoh penerapannya adalah penggunaan slag sebagai material agregat dan penyaluran hasil samping tertentu ke industri semen setelah memenuhi standar yang ditetapkan.
Tim juga mengusulkan penggunaan digital mass balance untuk mencatat dan menelusuri aliran material secara digital, serta Material Passport untuk mendokumentasikan karakteristik dan potensi pemanfaatannya. Kedua instrumen tersebut diharapkan dapat memperkuat keterlacakan material dan mendukung pembuktian kinerja lingkungan perusahaan.
Dalam menyusun strategi, tim menggunakan metode root cause analysis dan issue tree untuk mengidentifikasi akar persoalan. Mereka kemudian mengevaluasi kelayakan finansial melalui perhitungan Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), analisis sensitivitas, serta simulasi Monte Carlo untuk memperhitungkan risiko ketidakpastian investasi.
Hasil analisis tersebut menjadi dasar penyusunan tahapan implementasi yang dimulai dari penyelesaian hambatan regulasi dan pengumpulan data material, sebelum dilanjutkan dengan investasi serta perluasan pemanfaatan.
Pendekatan ini menjadi dasar konsep The Second Furnace, yakni menciptakan nilai tambahan dari hasil samping produksi tanpa harus langsung membangun fasilitas pengolahan kedua.


.jpg)


