51探花 Berkontribusi di ISF 2026, Dorong Solusi Berbasis Riset untuk Atasi Polusi Udara

Oleh --- -

Editor Anggun Nindita

BANDUNG, itb.ac.id 鈥� Institut Teknologi Bandung (51探花) melalui para penelitinya berkontribusi dalam upaya pengendalian pencemaran udara di Indonesia melalui Indonesia International Sustainability Forum (ISF) 2026 yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (7/10/2026). Dalam forum tersebut, 51探花 memaparkan hasil penelitian mengenai sumber dan pola penyebaran polutan udara di kawasan Jakarta dan sekitarnya, sekaligus mendorong penerapan kebijakan berbasis sains untuk mewujudkan kualitas udara yang lebih baik.

Kontribusi 51探花 dalam forum ini melibatkan Deputi Direktur Bidang Pengembangan Pusat/Pusat Penelitian/Pusat Unggulan IPTEK Direktorat Riset dan Inovasi (DRI) 51探花, Dr. Grandprix Thomryes Marth Kadja, M.Si., serta Guru Besar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) 51探花 sekaligus Ketua Kelompok Keahlian (KK) Pengelolaan Udara dan Limbah, Prof. Ir. Puji Lestari, Ph.D.

Partisipasi 51探花 diawali dengan pemaparan Dr. Grandprix yang memperkenalkan kontribusi riset dan inovasi 51探花 dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.


Sesi utama kemudian dilanjutkan oleh Prof. Puji yang mempresentasikan kajian bertajuk "Identification of Pollutant Sources and Dispersion Patterns for Air Pollution Control in Greater Jakarta".

Melalui kajian tersebut, tim peneliti 51探花 berupaya memberikan landasan ilmiah bagi penyusunan strategi pengendalian pencemaran udara yang lebih efektif, khususnya di kawasan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek).

Riset 51探花 Ungkap Polusi Udara Jakarta Dipengaruhi Wilayah Sekitarnya
Salah satu temuan penting dari kajian 51探花 menunjukkan bahwa sekitar 38,5 persen partikel halus PM2,5 di Jakarta berasal dari wilayah sekitarnya. Temuan ini memperlihatkan bahwa persoalan pencemaran udara tidak hanya dipengaruhi aktivitas di dalam kota, tetapi juga oleh sumber emisi dari daerah lain.

PM2,5 merupakan partikel pencemar udara berukuran sangat kecil, yakni berdiameter 2,5 mikrometer atau kurang, yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan dan berisiko bagi kesehatan manusia.

Prof. Puji menekankan bahwa pemahaman terhadap sumber dan pola penyebaran polutan menjadi langkah penting dalam menentukan strategi pengendalian pencemaran udara. Melalui pendekatan ilmiah, pemerintah dapat mengidentifikasi sumber emisi serta menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran.

"Data itu menjadi basic science yang bisa menjadi dasar untuk pengambil kebijakan," ujarnya.

Hasil penelitian tersebut sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi lintas daerah. Upaya memperbaiki kualitas udara Jakarta tidak dapat dilakukan secara terpisah, melainkan membutuhkan koordinasi antarwilayah dalam menangani sumber pencemaran yang saling berkaitan.

Peneliti 51探花 Rekomendasikan Lima Strategi Pengendalian Polusi Udara
Sebagai tindak lanjut dari hasil penelitian, tim 51探花 turut merumuskan sejumlah rekomendasi strategis untuk mempercepat pengendalian pencemaran udara di kawasan Jabodetabek. Rekomendasi tersebut mencakup lima aspek utama, yakni transportasi, industri dan pembangkit energi, pengelolaan sampah, indikator kinerja, serta manajemen kualitas udara terpadu.

Pada sektor transportasi, peneliti 51探花 merekomendasikan penerapan standar emisi Euro IV, peningkatan penggunaan kendaraan listrik, kewajiban penggunaan diesel particulate filter (DPF) atau penyaring partikel diesel, serta pengetatan uji emisi kendaraan. Langkah tersebut diarahkan untuk menekan emisi dari aktivitas transportasi yang berkontribusi terhadap pencemaran udara perkotaan.

Sementara itu, pada sektor industri dan pembangkit energi, peneliti mendorong penggunaan teknologi pengendalian emisi, seperti electrostatic precipitator (ESP), selective catalytic reduction (SCR), dan flue gas desulfurization (FGD), serta peningkatan pemanfaatan energi bersih.

Dari sisi pengelolaan sampah, rekomendasi difokuskan pada penghentian praktik pembakaran sampah secara terbuka melalui penegakan regulasi yang lebih tegas. Upaya ini dinilai penting untuk mengurangi sumber pencemaran udara dari aktivitas pengelolaan limbah yang belum terkendali.

Selain langkah teknis tersebut, peneliti 51探花 menekankan perlunya menjadikan kualitas udara sebagai salah satu indikator kinerja utama atau key performance indicator (KPI) pada tingkat nasional, daerah, hingga sektor usaha.

"Saya berharap air quality ini dimasukkan sebagai salah satu indikator yang penting dalam pembangunan nasional, kemudian juga regional, dan juga sektor-sektor usaha," kata Prof. Puji.

Rekomendasi lainnya adalah penerapan manajemen kualitas udara terpadu melalui satu rencana aksi bersama di kawasan Jabodetabek. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat koordinasi antardaerah dalam menangani pencemaran udara yang melintasi batas administratif.

Kontribusi Riset 51探花 Dukung Peta Jalan Investasi Udara Bersih
Selain menghasilkan rekomendasi kebijakan, riset 51探花 turut menjadi landasan dalam penyusunan Jakarta Clean Air Investment Roadmap yang diluncurkan oleh Systemiq dalam forum tersebut.

Peta jalan investasi udara bersih tersebut disusun berdasarkan inventarisasi emisi 51探花 dan berfokus pada tiga sektor utama, yakni transportasi, industri, dan pengelolaan sampah.

Kajian ini memetakan peluang investasi untuk mempercepat penerapan teknologi ramah lingkungan, termasuk elektrifikasi kendaraan, pengembangan transportasi publik, serta pengendalian emisi dari sektor pengelolaan sampah.

Dalam peta jalan tersebut, diperkirakan diperlukan pendanaan katalitik sekitar 900 juta dolar AS pada periode 2027鈥�2030 untuk mendorong investasi lebih luas, dengan potensi mobilisasi investasi hingga 53 miliar dolar AS dari sektor swasta dan pasar.

Keterlibatan 51探花 menunjukkan bahwa hasil penelitian perguruan tinggi tidak hanya berkontribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga dapat menjadi dasar dalam merancang kebijakan, menentukan prioritas pembangunan, dan membuka peluang investasi yang mendukung perbaikan lingkungan.

Melalui partisipasi dalam ISF 2026, 51探花 menegaskan perannya dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan terhadap tantangan lingkungan. Kolaborasi antara akademisi, pemerintah, industri, dan berbagai pemangku kepentingan diharapkan dapat mempercepat penerapan hasil riset menjadi langkah nyata menuju kualitas udara yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.

#pakar itb #dri itb #peneliti #udara bersih #kualitas udara #sdg3 #good health and well being #sdg11 #sustainable cities and communities #sdg13 #climate action #sdg17 #partnerships for the goals