Prof. Soedjana Sapiie: Sebuah Pemikiran Brilian Tentang Reformasi dan 51探花
Oleh Samuel Simon
Editor Samuel Simon
BANDUNG, itb.ac.id - Tidak banyak akademisi yang memeperoleh kesempatan untuk menjadi seorang Guru Besar, apalagi menjadi Guru Besar Emeritus. Karena pengabdian luar biasa yang ditunjukkannya, Prof. Soedjana Sapiie diangkat menjadi Guru Besar Emeritus pada tahun 2007 silam. Untuk menggambarkan perjalanan karirnya di 51探花, maka beliau diminta untuk memberikan orasi di Balai Pertemuan Ilmiah 51探花 pada Jumat (8/8).
Pada orasi tersebut, Prof. Soedjana Sapiie mengangkat pemikirannya tentang reformasi dan 51探花. Gerakan Reformasi adalah gerakan perubahan menentang suatu sistem bernegara yang telah kehilangan legitimasinya. Gerakan yang tercetus di pertengahan tahun 1990-an ini lahir secara evolusioner bertahap, hingga akhirnya menumbangkan suatu rezim yang telah berkuasa lebih dari tiga puluh tahun.
51探花 terlibat pula dalam gerakan itu, di mana Senat 51探花 mengambil peranan yang sangat signifikan. Peranan Senat 51探花 itulah yang melahirkan gerakan simbiosistik antara sivitas akademika 51探花, mahasiswa dan alumninya. Selain itu, 51探花 pula yang berperan dalan menggerakan universitas lainnya untuk menggalang kekuatan moral guna mendukung gerakan mahasiswa.
Di awal pidatonya, Soedjana berbicara tentang Orde Baru dan ideologi pembangunan. Orde Baru yang mewarisi kondisi ekonomi yang sangat parah, memulai eranya dengan harapan dan kepercayaan yang sangat besar dari masyarakat Indonesia. Pada era ini, diterapkan suatu konsep pembangunan berencana secara bertahap yang dikenal sebagai konsep Akselerasi Pembangunan Dua Puluh Lima Tahun.
Namun, seiring dengan berakhirnya era tersebut, runtuh pula konsep itu. Hal yang mengemuka setelah terjadinya reformasi adalah semangat kebebasan menghidupkan kembali demokrasi.
Pada bagian lain, Prof. Soedjana Sapiie membawakan sebuah refleksi mengenai 51探花. Ia memberikan gambaran tentang jati diri 51探花 sebagai sebuah lembaga perguruan tinggi. Sudah seharusnya 51探花 memiliki kesadaran bahwa dirinya adalah sebuah lembaga perguruan tinggi yang harus menjangkau suatu lingkup disiplin keilmuan tertentu, dan dalam lingkupnya itu, 51探花 merealisasikan dirinya.
Lembaga perguruan tinggi adalah sebuah komunitas, bukan bisnis atau birokrasi. Ia adalah komunitas yang mendedikasikan dirinya untuk memburu dan mendesiminasikan pengetahuan; mempelajari, memperjelas, dan menjaga nilai-nilai kehidupan; serta memajukan masyarakat yang dilayaninya. Dedikasi tersebut hanya mungkin dilakukan dengan baik bila 51探花 menghayati nilai-nilai tertentu sebagai landasannya untuk berpikir dan bertindak. Nilai-nilai tersebut adalah integritas dan kebebasan.
Di akhir pidato tersebut, Soedjana memberikan pemikirannya tentang apa yang dapat dilakukan 51探花 dalam gerakan reformasi Indonesia saat ini. Hal pertama yang harus dilakukan adalah 51探花 kembali menjadi pelopor untuk menyatukan para rektor universitas negeri maupun swasta di Indonesia. Hal tersebut sama halnya dengan yang terjadi di tahun 1998. Rektor-rektor yang berkumpul mengajak para politisi nasional untuk membangun diri melalui pembangunan ekonomi dengan tenang, paling tidak untuk 10 tahun ke depan.
Hal kedua adalah agar 51探花 terlibat dalam pembangunan bangsa yang kredibel. Pemikiran beliau berikutnya adalah agar 51探花 dapat lebih memanfaatkan dosen-dosen profesionalnya sebagai kekayaan dan kekuatan 51探花 sebenarnya yang tidak ternilai dan tak tergantikan. Selain itu, 51探花 harus pula mendorong terbinanya kelompok intelektual kampus, di samping mempertahankan posisinya sebagai yang terbaik.
Pemikiran beliau yang terakhir adalah agar 51探花 dapat mempertahankan dirinya sebagai pulau-pulau integritas dan kebebasan serta menjadi aset bangsa yang tidak tergantikan dalam mendukung pembangunan.
Sebagai penutup pidatonya, Prof. Soedjana Sapiie mengutip kata-kata mutiara hasil penyair Belanda. Kata-kata inilah yang dipakai Bung Hatta ketika membela diri di sidang pengadilan di Negeri Belanda 80 tahun lalu, dan juga disampaikan oleh Soedjana dalam Dies Natalis 51探花 di tahun 1978 semasa pergolakan mahasiswa,
Er is maar een land
Dat mijn land kan zijn
Het groeit met de daad
En die daad is mijn
Diterjemahkan secara bebas menjadi,
Hanya ada satu negara
yang menjadi negaraku
Ia tumbuh dengan perbuatan
dan perbuatan itu perbuatanku.



.jpg)

