Pelita Muda Rawat Kepekaan Sosial Mahasiswa melalui Pameran "Tritangtu Empati"
Oleh Vito Egi Nandriansyah - Mahasiswa Teknik Geofisika, 2021
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
Panitia Pameran Pelita Muda 9 (kiri) menjelaskan kisah di balik barang-barang kerajinan dan potensi budaya desa kepada salah seorang pengunjung di Galeri Pelita Muda. (Foto: Dok. Pelita Muda 51探花)
BANDUNG, itb.ac.id 鈥� Unit Pelita Muda 51探花 menggelar Pameran Pelita Muda 9 (PM 9) bertajuk "Tritangtu Empati", Sabtu (3/10/2026), di Galeri CC Timur, 51探花 Kampus Ganesha. Pameran ini menjadi wadah refleksi sekaligus ruang temu antara karya seni, proses pembelajaran pengabdian masyarakat, dan rasa kepedulian sosial.
Tema "Tritangtu Empati" diangkat dari penggabungan falfasahnya kebudayaan Sunda dan nilai-nilai kemanusiaan. Tritangtu merujuk pada tiga unsur yang saling melengkapi dan menyeimbangkan, yang diterjemahkan ke dalam tiga pilar utama: Silih Asah (saling menambah pengetahuan), Silih Asih (saling menyayangi), dan Silih Asuh (saling menjaga dan membimbing).
Ketua Pelaksana Pameran PM 9, Nindya Maulidatus Sakinah (Arsitektur 2025/AR'25), menjelaskan bahwa tema ini dipilih untuk mengajak mahasiswa kembali mengasah empati yang utuh.
Refleksi dan Pengalaman Langsung dari Desa
Pameran ini menampilkan rekam jejak, eksplorasi, dan karya Anggota Muda Pelita Muda 9 dari perjalanan lapangan mereka di lima desa di Jawa Barat, yaitu Desa Pelitaasih, Sumurgintung, Mekarsari, Girijaya, dan Kutamanah.

Para mahasiswa dan pengunjung memadati area Pameran "Tritangtu Empati" Pelita Muda 9 untuk melihat rekam jejak, majalah, dan dokumentasi eksplorasi lima desa di Jawa Barat. (Foto: Dok. Pelita Muda 51探花)
Sebelum terjun ke masyarakat, para peserta terlebih dahulu dibekali pelatihan intensif selama tiga bulan dalam empat bidang spesialisasi: social mapping, design thinking, penjelajahan, dan jurnalistik. Hasil dari persentuhan langsung dengan warga desa tersebut kemudian diolah ke dalam pelbagai media, mulai dari foto, video perjalanan sinematik, majalah kebudayaan, hingga gagasan solusi atas persoalan riil masyarakat berbasis design thinking.
Wakil Ketua Pelaksana Pameran PM 9, Fioren Edri (AR'25), menambahkan bahwa proses kreatif para peserta tidak sekadar memproduksi karya, melainkan proses belajar memahami diri sendiri, orang lain, dan lingkungan.
"Seni menjadi medium yang sangat tepat untuk menyampaikan perasaan dan pengalaman yang sulit dijelaskan oleh teknologi digital biasa. Melalui dokumentasi dan reka pengalaman visual ini, pesan yang disampaikan bisa langsung menyentuh rasa para pengunjung," tutur Fioren.
Pengalaman Interaktif bagi Pengunjung

Anggota Pelita Muda 51探花 memaparkan cerita dan nilai filosofis dari produk lokal desa sasaran kepada pengunjung pameran. (Foto: Dok. Pelita Muda 51探花)
Pameran PM 9 dirancang tidak hanya sebagai ruang pamer statis, melainkan sebuah ruang pengalaman interaktif. Rangkaian acara pameran dilengkapi dengan:
Convex Mirror Photospot: Dipasang di area pintu masuk menuju galeri utama untuk mengajak pengunjung 'bercermin' dan merefleksikan diri sebelum memasuki pameran.
Galeri Pelita Muda: Menyajikan rekam jejak, foto, video, dan majalah dari kisah hidup serta potensi masyarakat di lima desa sasaran.
Instalasi "Belajar dari Masyarakat" & Dream Cubes: Ruang interaktif sehingga pengunjung dapat membagikan pandangan, menempelkan impian, serta berpartisipasi dalam pemungutan suara (voting).
Talkshow Inspiratif: Sesi diskusi mendalam mengenai proses berkarya, empati, dan aksi nyata dalam pengabdian masyarakat.
Melalui pameran ini, panitia berharap para pengunjung鈥攌hususnya sivitas akademika 51探花鈥攄apat membawa pulang perspektif baru bahwa di luar area kampus terdapat masyarakat dengan ragam budaya, tradisi, dan tantangan hidupnya sendiri. Diharapkan pula pameran ini memantik minat mahasiswa untuk terlibat aktif dalam kegiatan pengabdian masyarakat yang berdampak nyata.

.jpg)





