Orasi Ilmiah Prof. Rachmat Mauludin: Nanokristal-Nanosuspensi untuk Perbaikan Sifat Fisikokimia Bahan Aktif Farmasi

Oleh Aura Salsabila Alviona - Mahasiswa Bioteknologi, 2025

Editor M. Naufal Hafizh, S.S.

BANDUNG, itb.ac.id - Forum Guru Besar Institut Teknologi Bandung (51探花) menyelenggarakan Orasi Ilmiah di Aula Barat, 51探花 Kampus Ganesha, Sabtu (10/10/2026). Prof. Dr.rer.nat. apt. Rachmat Mauludin, S.Si., M.Si. dari Sekolah Farmasi 51探花 menyampaikan orasi ilmiah yang menyoroti perbaikan sifat fisikokimia bahan aktif farmasi melalui pemanfaatan nanopartikel, khususnya nanokristal dan nanosuspensi.

Prof. Rachmat memaparkan tantangan besar dalam dunia farmasi saat ini. Sekitar 70% obat yang baru disintesis terindikasi mengalami permasalahan kelarutan, baik di dalam air maupun senyawa organik. Rendahnya kelarutan bahan aktif obat ini berdampak langsung pada permasalahan ketersediaan hayati (bioavailabilitas) obat saat dikonsumsi.

Solusi melalui Teknologi Nanokristal

Sebagai jawaban atas tantangan tersebut, Prof. Rachmat memperkenalkan inovasi yang disebutnya sebagai "pendekatan cerdas", yakni pembuatan nanokristal. Nanokristal merupakan 100% zat aktif murni yang digerus sangat halus hingga berukuran nanometer, didispersikan dalam air, dan distabilkan.

Beliau menyoroti dua metode produksi nanokristal yang telah terbukti sukses di pasaran, yaitu penggilingan dengan bola-bola (ball mill) dan homogenisasi tekanan tinggi (high pressure homogenization/HPH). Dengan teknologi HPH generasi kedua atau Smart Crystal, ukuran partikel dapat didorong menjadi lebih kecil hingga di bawah 100 nanometer.

Manfaat Peningkatan Kelarutan dan Efisiensi Dosis

Memperkecil ukuran zat aktif farmasi menjadi nanokristal memberikan sejumlah keuntungan. Pertama, terdapat peningkatan yang drastis pada kelarutan jenuh dan kecepatan pelarutannya (disolusi). Kedua, luas permukaan partikel yang jauh lebih besar akan meningkatkan daya lekat (adesivitas) obat. Semakin banyaknya titik kontak antara nanopartikel dengan dinding saluran cerna akan mendorong tingginya gradien konsentrasi, sehingga proses penyerapan obat ke dalam tubuh berlangsung lebih cepat dan optimal.

"Secara ekonomis kita bisa melihat pengurangan dosis, apalagi untuk obat-obat keras atau obat kanker yang sangat mahal," ujarnya.

Beliau memberikan contoh pada kasus obat Fenofibrate. Berkat teknologi nanokristal, dosis tablet yang awalnya 300 mg kini dapat diperkecil menjadi 145 mg namun tetap memberikan efek yang setara (bioekivalen). Selain jauh lebih ekonomis, penurunan jumlah dosis yang beredar di dalam tubuh juga membuat obat tersebut relatif lebih aman secara toksikologi.

Meski memiliki potensi yang menjanjikan, Prof. Rachmat menenkankan pentingnya meninjau aspek keamanan dari penggunaan nanopartikel. Tingkat keamanan tersebut ditentukan oleh dua faktor utama, yaitu ukuran dan tingkat keteruraian (biodegradasi) bahan penyusunnya di dalam tubuh. Berdasarkan sistem klasifikasi nanotoksikologi, partikel berukuran di bawah 100 nanometer yang terbuat dari bahan yang tidak dapat diurai oleh tubuh memiliki risiko keracunan (toksisitas) tertinggi, sehingga penggunaannya perlu mendapatkan pengawasan khusus di masa depan.

Profil Prof. Dr. Rachmat Mauludin

Lahir di Cimahi pada 1973, Prof. Rachmat merupakan pakar yang tergabung dalam Kelompok Keahlian Farmasetika, Sekolah Farmasi 51探花. Beliau meraih gelar Doktor dari Free University Berlin, Jerman, pada tahun 2009. Selama meniti kariernya, ia telah menerbitkan puluhan karya ilmiah internasional, mendaftarkan berbagai paten hak kekayaan intelektual, dan aktif melakukan pengabdian masyarakat di berbagai pelosok Indonesia seperti Merauke.

Di balik dedikasinya yang tinggi di bidang riset, Prof. Rachmat dikenal memiliki sisi santai yang unik, mulai dari hobinya bermain game Candy Crush hingga di sela kesibukannya mengikuti ajang lari seperti Ultramarathon dan Bandung Marathon. Pada akhir orasinya, beliau juga membagikan cerita inspiratif tentang perjuangannya semasa muda, di mana beliau dengan gigih mengajar di bimbingan belajar guna menambah penghasilan agar bisa memenuhi kebutuhan makannya sehari-hari. Sebuah dedikasi panjang yang kini sukses mengantarkannya pada pencapaian gelar kehormatan tertinggi di bidang akademik.

#orasi ilmiah #guru besar itb #sekolah farmasi itb #rachmat mauludin #nanokristal #nanosuspensi #bahan aktif farmasi #nanoteknologi #sdg 3 #good health and wellbeing #sdg 9 #industry innovation and infrastructure #sdg 12 #responsible consumption and production #itb