Orasi Ilmiah Prof. Rachman Setiawan: Integrasi Perancangan Teknik sebagai Kunci Kemandirian Teknologi dan Keselamatan Publik
Oleh Dina Avanza Mardiana - Mikrobiologi, 2022
Editor M. Naufal Hafizh, S.S.
BANDUNG, itb.ac.id - Prof. Rachman Setiawan dari Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) menyampaikan orasi ilmiah, di Aula Barat, 51探花 Kampus Ganesha, Sabtu (12/9/2026), Prof. Rachman memaparkan orasi bertajuk "Perancangan Teknik dalam Kerangka Siklus Hidup Produk Rekayasa". Pemaparan ini menyoroti pergeseran paradigma perancangan teknik dari sekadar konseptualisasi visual menjadi sistem pengambilan keputusan matematis berskala besar yang berdampak langsung pada keandalan infrastruktur, efisiensi ekonomi, dan keselamatan publik.
Paradigma Design for Excellence dalam Siklus Hidup Produk
Prof. Rachman mendekonstruksi pandangan usang yang menganggap perancangan teknik sebatas tahap pembuatan sketsa fisik. Ia menegaskan bahwa perancangan sejati adalah sebuah proses iteratif pengambilan keputusan yang sangat kompleks, berlandaskan formulasi matematika, ilmu dasar, dan prinsip keteknikan murni.
Agar sebuah produk rekayasa berdaya guna maksimal, proses perancangan tersebut harus terintegrasi penuh ke dalam lima fase siklus hidup produk secara berkesinambungan. Fase ini dimulai dari identifikasi kebutuhan pengguna untuk memetakan spesifikasi fungsional, yang kemudian dilanjutkan pada tahap pengembangan untuk menerjemahkan konsep menjadi parameter desain terukur.
Setelah desain matang, produk memasuki fase produksi yang menuntut efisiensi manufaktur, lalu beralih ke fase operasi dan perawatan untuk menjamin keandalan operasional jangka panjang, hingga akhirnya tiba pada fase akhir pakai atau daur ulang yang menuntut pendekatan ramah lingkungan.
"Untuk mengikat keseluruhan fase tersebut, metodologi Design for Excellence atau DFX mutlak diimplementasikan sejak awal mula konsep," tutur Prof. Rachman.
Beliau menjelaskan lebih lanjut bahwa metodologi ini memastikan setiap iterasi desain tidak hanya mengejar performa puncak, tetapi juga secara simultan mempertimbangkan kemudahan produksi, kelayakan ekonomis, serta mitigasi dampak lingkungan.
Akselerasi Inovasi Melalui Algoritma Cerdas
Salah satu tantangan terbesar dalam praktik rekayasa modern, menurutnya, adalah mahalnya biaya komputasi dan lamanya waktu pemrosesan saat harus menjalankan simulasi perancangan untuk struktur yang rumit. Guna mengatasi hambatan ini, Prof. Rachman memperkenalkan terobosan prediktif melalui pemanfaatan surrogate model yang diintegrasikan secara langsung dengan algoritma Machine Learning. Pendekatan optimasi ini dinilai sangat efisien dalam memetakan hubungan non-linear antara variabel input desain dan output performa, sehingga insinyur tidak perlu menjalankan komputasi simulasi yang berat secara berulang-ulang.
Metodologi mutakhir ini telah membuahkan berbagai aplikasi praktis berskala internasional di berbagai lintas disiplin. Beliau memaparkan keberhasilan pemodelan presisi untuk memprediksi sifat mekanik pada pelat material komposit canggih. Tidak hanya di bidang material, kolaborasi riset strategis dengan Nanyang Technological University (NTU) juga berhasil melahirkan perancangan geometri kawat gigi ortodontik masa depan.
Sementara itu, dalam industri otomotif, pendekatan kecerdasan buatan ini diaplikasikan untuk mengoptimalkan struktur pelindung baterai kendaraan listrik berdesain auxetic, sebuah material inovatif yang justru mengembang saat ditarik sehingga mampu menyerap energi benturan secara maksimal sembari menjaga bobot kendaraan tetap ringan.
Rekayasa Keselamatan Transportasi dan Standardisasi Nasional
Pengabdian keilmuan Prof. Rachman terasa sangat nyata pada aspek keselamatan pasif (crashworthiness), khususnya perlindungan pada infrastruktur transportasi massal. Beliau membedah inovasi krusial hasil rancangannya berupa modul penyerap energi impak hibrida yang didesain spesifik untuk armada perkeretaapian. "Kami merancang modul yang mampu menyerap energi benturan secara maksimal, sekaligus berupaya keras mempertahankan ruang selamat atau survival space bagi para penumpang di dalam gerbong saat kondisi darurat," ujarnya.
Beliau menjabarkan bahwa modul pelindung ini dirancang secara khusus untuk mencegah terjadinya fenomena overriding, yakni sebuah kondisi sangat fatal ketika satu rangkaian kereta memanjat atau menumpuk ke atas rangkaian lainnya saat terjadi tabrakan berkecepatan tinggi.
Inovasi rekayasa yang telah diakui dan dipatenkan ini tidak berhenti di rak laboratorium akademis saja. Desain tersebut diadopsi sebagai landasan teknis utama dalam perumusan Standar Nasional Indonesia (SNI) 8826:2019 tentang persyaratan keselamatan struktur fasilitas kereta api, menjadi wujud nyata kontribusi akademisi dalam melindungi nyawa jutaan penumpang transportasi publik di Tanah Air.
Implementasi RAMS dan Keberlanjutan SDM Industri
Beranjak dari skala komponen menuju sistem skala makro, rekam jejak penelitian Prof. Rachman terbukti memberikan kontribusi ekonomi dan strategis melalui penerapan kerangka kerja Reliability, Availability, Maintainability, and Safety (RAMS). Sebuah pencapaian fenomenal yang menjadi sorotan utama dalam orasinya adalah kajian teknis terkait perpanjangan siklus overhaul armada kereta MRT Jakarta.
Dengan menggunakan evaluasi saintifik berbasis Failure Mode, Effects, and Criticality Analysis (FMECA) yang dipadukan dengan pengujian getaran komprehensif, tim peneliti 51探花 yang dipimpinnya berhasil membuktikan bahwa komponen-komponen krusial kereta masih beroperasi dengan sangat aman dan berada jauh di bawah ambang batas kelelahan material.
"Kajian saintifik ini pada akhirnya berujung pada persetujuan pemerintah untuk memperpanjang batas siklus overhaul armada MRT Jakarta dari 480.000 kilometer menjadi 600.000 kilometer," katanya.
Rekomendasi kebijakan tersebut terbukti menghasilkan efisiensi biaya pemeliharaan dalam skala yang sangat masif bagi pihak operator, tanpa sedikit pun menurunkan standar keselamatan para penumpang. Di luar transportasi, kepakarannya dalam merancang keandalan sistem juga telah diimplementasikan pada berbagai proyek strategis, mulai dari optimalisasi fasilitas panas bumi PLTP Lahendong hingga desain pipa transmisi gas bumi Trans-Jawa.
Prof. Rachman menyampaikan bahwa penguasaan tata cara perancangan teknik secara holistik bukan lagi sekadar keunggulan kompetitif, melainkan syarat mutlak bagi Indonesia untuk mencapai kemandirian industri seutuhnya.
Ia memaparkan bahwa integrasi metodologi komputasi cerdas, kesadaran penuh akan siklus hidup produk, dan komitmen tanpa kompromi pada keselamatan publik harus menjadi napas utama dalam setiap karya rekayasa anak bangsa. "Kemandirian teknologi nasional hanya bisa diraih jika kita mampu merancang, menguji, dan memelihara sistem industri kita sendiri dengan landasan saintifik yang kuat," tuturnya.
Pesan ini menjadi refleksi sekaligus pengingat bagi sivitas akademika bahwa di tangan para insinyur inovatif, batasan komputasi dan risiko infrastruktur dapat direkayasa menjadi pijakan kukuh untuk masa depan teknologi Indonesia.



.jpg)


