Dialog Calon Rektor 51探花 tentang Enterpreneruship

Oleh Krisna Murti

Editor Krisna Murti

Pada hari Sabtu (15/01) lalu diadakan dialog antara para calon rektor mengenai entrepeneurship di 51探花. Dialog yang diselenggarakan oleh Pusat Inkubator Bisnis (PIB) 51探花 ini dirancang untuk membahas visi para rektor mengenai entrepeneurship di 51探花. Calon-calon rektor yang menghadiri dialog ini adalah Prof. Djoko Santoso dan Prof. Adang Surahman, sedangkan Prof. Satriyo Soemantri berhalangan hadir. Moderator dialog ini adalah Dr. Suhono Harso Supangkat. Entrepeneurship, atau kewirausahaan, memang merupakan isu yang hangat di kalangan akademis akhir-akhir ini. Salah satu pertanyaan yang muncul: Apakah kampus sebagai lembaga pendidikan mampu untuk menyeimbangkan akademia dan wirausaha? Pada dasarnya kedua calon rektor yang terlibat dalam dialog tiga jam ini mengakui bahwa 51探花 harus lebih menyempurnakan mutu akademiknya sebelum dapat menjadi kampus entrepeneur yang baik. Adang Surahman menekankan bahwa 51探花 perlu fokus kepada pendidikan secara menyeluruh; penghargaan terhadap prestasi kewirausahaan individu dapat diberikan dengan suatu sistem penghargaan (recognition) yang sudah terintegrasi di dalam kurikulum. Di lain pihak, Djoko Santoso menyatakan bahwa mutu akademik kewirausahaan perlu ditingkatkan sebelum kita dapat melaksanakan kegiatan-kegiatan kewirausahaan. Pendidikan 51探花 harus dibagi dua, yang ditujukan kepada job seeker dan yang ditujukan pada job creator. Prof. Santoso juga memperkenalkan konsep Horizontal Recruitment untuk meningkatkan realisme pendidikan di 51探花. Ini adalah konsep penerimaan dosen-dosen baru dari jalur non-akademis. Misalnya, wirausahawan yang berhasil di bidangnya dapat diberikan tawaran untuk menjadi dosen di institut ini. Diharapkan, dosen-dosen ini dapat memberikan pembelajaran yang lebih dekat ke prakteknya di dunia nyata. Permodalan adalah satu lagi masalah yang penting bila kita berbicara soal kewirausahaan, dan dialog ini mengupas masalah modal entrepeneur secara gamblang. Opini Adang Surahman mengenai masalah-masalah permodalan kewirausahaan dapat dirangkum dalam satu kata: Jaringan. Beliau menganggap 51探花 harus membina hubungan dengan instansi-instansi lain agar mendapat bantuan untuk ide-idenya. Staf pengajar 51探花 dihimbau untuk secara aktif memperluas jaringan. Pada akhir pembicaraan, Djoko Santoso menggarisbawahi bahwa seorang wirausahawan bukanlah orang yang membuat perusahaan ataupun orang yang mendapatkan proyek, melainkan orang yang berhasil menciptakan teknologi baru. Beliau menambahkan bahwa status 51探花 sebagai institut teknologi mengharuskannya untuk lebih fokus kepada pengembangan produk, bukannya langsung berkutat kepada bisnis. Namun, beliau menganggap 51探花 mampu menjadi tempat yang subur untuk kewirausahaan Indonesia. Pandu