Endinamosis 2026, 51探花 Dorong Pembangunan Desa Berbasis Inovasi dan Pemberdayaan Masyarakat
Oleh Anggun Nindita
Editor Anggun Nindita
BANDUNG, itb.ac.id 鈥� Institut Teknologi Bandung (51探花) melalui Pusat Pemberdayaan Perdesaan (P2D) 51探花 menggelar konferensi Endinamosis 2026 di Multipurpose Hall, Lantai 3, Gedung CRCS, 51探花 Kampus Ganesha, Rabu (21/10/2026). Kegiatan yang berlangsung dalam rangkaian acara pada 20鈥�22 Oktober 2026 ini menjadi ruang diskusi dan kolaborasi untuk mendorong pembangunan desa melalui inovasi teknologi, penguatan ekonomi lokal, serta pemberdayaan masyarakat.
Mengusung tema 鈥淓mpowering Villages for Sustainability: Food Security, Green Energy and Green Jobs鈥�, konferensi ini berfokus pada strategi dan inovasi pemberdayaan masyarakat desa menuju pembangunan yang berkelanjutan.
Sejumlah isu menjadi perhatian dalam konferensi, mulai dari ketahanan pangan (food security), energi hijau (green energy), teknologi dan inovasi perdesaan, pelestarian budaya dan pengembangan kelembagaan, hingga pemberdayaan sosial ekonomi dan perluasan kesempatan kerja bagi masyarakat desa.
Kontribusi 51探花 melalui Infrastruktur, Energi Terbarukan, dan Pemberdayaan Desa
Perwakilan P2D 51探花, Dr. Tri Desmana Rachmildha, S.T., M.T., menyampaikan bahwa pembangunan perdesaan membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk perguruan tinggi. Dengan jumlah desa di Indonesia yang mencapai lebih dari 75.000, diperlukan pendekatan pembangunan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mengoptimalkan potensi lokal.
"51探花 melalui P2D telah berkontribusi dalam berbagai program pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat di sejumlah daerah, khususnya wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses terhadap fasilitas dasar. Salah satu kontribusi tersebut diwujudkan melalui pembangunan jalan dan jembatan gantung di sejumlah daerah terpencil, termasuk di Jawa Barat, untuk meningkatkan konektivitas dan mempermudah mobilitas masyarakat," katanya.
Selain infrastruktur transportasi, P2D 51探花 juga mengembangkan pemanfaatan energi terbarukan, seperti pembangunan pembangkit listrik mikrohidro di Sulawesi Selatan serta pemasangan panel surya di wilayah yang belum terjangkau jaringan listrik utama.
"Pemanfaatan teknologi tersebut tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga mendukung kegiatan pendidikan, aktivitas ekonomi produktif, dan pelayanan publik, termasuk penerangan jalan serta fasilitas kesehatan masyarakat," ungkapnya.
Dr. Tri menambahkan bahwa berbagai program P2D turut melibatkan mahasiswa 51探花 dalam proses pendampingan dan pemberdayaan masyarakat. Mahasiswa didorong untuk menerapkan ilmu pengetahuan secara langsung, termasuk membantu masyarakat mengolah potensi hasil bumi menjadi produk yang memiliki nilai tambah ekonomi.
"Melalui pendekatan tersebut, pembangunan desa diharapkan tidak berhenti pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga mampu meningkatkan kapasitas dan kemandirian masyarakat dalam jangka panjang," tuturnya.
Penguatan Ekonomi Desa dan Kolaborasi Lintas Sektor
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (BPSDM Kemendesa PDTT), Dr. Agustomi Masik, M.Dev.Plg., menyoroti tantangan ketimpangan pembangunan antara wilayah perkotaan dan perdesaan.
Ia menjelaskan bahwa konsentrasi penduduk dan aktivitas ekonomi di perkotaan masih menjadi tantangan bagi pembangunan desa. Kondisi tersebut turut memengaruhi pemerataan infrastruktur, kesempatan ekonomi, dan ketersediaan tenaga kerja produktif di perdesaan.
"Pembangunan perlu semakin memperhatikan potensi ekonomi lokal dan kebutuhan masyarakat desa. Penguatan sektor produktif, akses energi, serta efisiensi distribusi hasil pertanian menjadi sejumlah aspek penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat," ucapnya.
"Penguatan sumber daya manusia, tata kelola, serta sistem pendukung yang berkelanjutan juga diperlukan agar infrastruktur yang dibangun dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat," lanjutnya.
Dr. Agustomi turut mengajak akademisi dan mahasiswa untuk berkontribusi melalui gagasan, penelitian, dan inovasi yang dapat diterapkan secara nyata dalam menjawab persoalan pembangunan perdesaan.






